Kamis, 07 Januari 2010

Mencintai dan Memiliki [SKDAG498]

MenCINTAi seseorang tidak mesti memilikinya, tetapi bila memiliki seseorang maka kita harus menCINTAinya dengan sebaik mungkin.
Cintai yang kita miliki, tetapi tidak harus memiliki semua yang kita cintai.

Mencintai dan memiliki memang dua hal yang berbeda, tetapi banyak orang yang berpendapat salah, yaitu bila saya mencintai, maka saya harus memilikinya. Mencintai berarti kita memberikan kebebasan dan membiarkan dia untuk tumbuh dan berkembang, bukan untuk kita kendalikan, misalnya bila seorang ibu mencintai anaknya, maka ia akan memberi bimbingan agar anaknya dapat bertumbuh menjadi dewasa dan ia harus siap bila suatu saat si anak meninggalkannya karena akan kuliah atau bekerja ke tempat lain, atau juga berumah tangga dengan pasangannya.

Sangat berbahaya bila seorang ibu karena mencintai anaknya, maka ia melarang anaknya untuk bermain di luar rumah karena kotor dan berbahaya, melarang untuk jajan di luar, karena makanannya tidak sehat, selalu mengantar anaknya kemana pun ia pergi. Apa yang terjadi dengan anak tersebut ? Ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak mandiri karena selalu tergantung pada ibunya.

Demikian juga bila kita memiliki anak buah yang hebat maka pasti kita mencintainya, tetapi jelas kita tidak dapat menahan dia untuk berkembang. Karena kehebatannya itu mungkin saja suatu saat ia akan mencari pekerjaan di tempat lain yang memberikan peluang baginya untuk lebih maju dan berkembang.

Jadi mencintai itu tidak harus memiliki, tetapi semua yang telah kita miliki harus kita syukuri dengan sepenuh hati. Saya bersukur walaupun saat ini rumah saya hanya tipe 45 dan saya mencintai rumah yang bertingkat dua dengan halaman luas. Hal ini boleh saja karena dengan demikian kita pun memiliki mimpi untuk memiliki rumah yang seperti itu sehingga kita akan berusaha lebih giat, tentu saja dengan jalan yang benar dan berkenaan di hati Tuhan.

Rabu, 06 Januari 2010

Karakteristik Orang Besar [SKDAG497]

Perbedaan antara orang biasa dengan orang besar adalah kemampuan mereka untuk memilih jalan yang sulit, orang besar berani menanggung resiko (Ryuho Okawa).


Tuhan memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk menjadi orang besar atau orang yang biasa-biasa saja (mediocre). Untuk menjadi orang besar memang tidak mudah, kita perlu bekerja keras, bekerja cerdas, tidak mudah putus asa dan masih banyak syarat lainnya.

Salah satu karakteristik orang besar adalah berani menanggung resiko, maksudnya adalah resiko yang telah diperhitungkan. Ia melihat bahwa dalam setiap persoalan tetap ada peluang untuk menyelesaikannya, memang tidak mudah, karena itu ia harus berusaha. Walaupun demikian tetap ada resiko untuk gagal, dan orang besar telah memperhitungkan resiko tersebut.

Orang besar bukan orang yang nekad, yaitu orang yang ingin menang tanpa mempedulikan resiko besar yang akan dihadapinya. Orang seperti ini disebut bertipe penjudi, yang hanya mengandalkan nasib baik atau keberutungan semata.

Orang besar juga bukan seorang safety player, yang hanya ingin mencari aman saja – tidak berani mengambil resiko. Bila tidak berani mengambil resiko jelas ia tidak akan pernah berhasil, akibatnya tidak pernah menjadi orang besar.

Sabtu, 02 Januari 2010

Tuhan Yesus mengasihi kami sekeluarga …

Sejak hari Sabtu, 26 Desember kami sekeluarga, kecuali Andalan – anak terbesar – yang tidak ikut, pergi berlibur ke Bandung. Pada hari Senin pagi kami berencana pergi ke Cipanas Garut untuk berenang di kolam air panas.Saat itu kami menggunakan mobil Kijang, milik kakak ipar, beserta dengan kakak dan adik ipar serta salah satu keponakan. Jam 9.00 pagi kami berangkat dari rumah di Holis Permai langsung ke Tol melalui pintu tol Pasir Koja.
Semua perjalanan lancar, sampai kami keluar pintu tol dan baru berputar untuk menuju ke Garut / Tasik. Saat itu muncul suara yang aneh dari sebelah kanan mobil, dan kami segera berhenti di depan tukang tahu Sumedang. Apa yang terjadi? Ternyata ban kanan belakang telah kempes total. Tidak dapat dibayangkan bila kejadian tersebut terjadi pada saat kami berjalan di Tol Padaleunyi dengan kecepatan tinggi. Tuhan telah melindungi kami semua dengan caranya yang ajaib.
Ban mobil yang rusak ternyata tidak dapat diperbaiki oleh tukang tambal ban sederhana yang berada di pinggir jalan. Ban serep juga tidak dapat dibuka, karena seluruh kunci-kunci mobil dan kotak peralatan diturunkan kakak ipar di rumahnya. Tukang tambal ban juga tidak memiliki peralatan untuk membukanya. Terpaksa kami menunggu, karena kakak ipar menelpon kantornya untuk minta dikirim mobil dan menukar dengan mobil yang kami pakai. Singkat kata satu jam kemudian kami dapat melanjutkan perjalanan ke Cipanas Garut, dan sampai kembali di Bandung pada jam 21.
Keesokan harinya, Selasa tanggal 29 Desember memang telah kami rencanakan untuk pulang kembali ke Bogor. Sebelum pulang ke Bogor kami mampir dulu ke toko kue Prima Rasa untuk membeli sedikit oleh-oleh, baru setelah itu langsung berangkat ke Bogor melalui pintu Tol Pasteur.
Jam 11.05 kami telah memasuki jalan tol Cipularang, jarak ke Jakarta sejauh 124 km. Waktu itu kami semua masih dalam kondisi segar, tetapi beberapa menit kemudian sejak melewati Padalarang anak-anak, Unggul dan Anggun, mulai tertidur. Saya pun mulai menguap karena mengantuk. Setelah km 100, saya minta permen ke istri yang duduk di belakang saya. Permen memang membuat segar, tetapi hanya sesaat saja, sesudah menempuh jarak 3 km, permen di mulut habis dan mulai mengantuk lagi. Saya tahan terus dan berjanji untuk makan permen setiap 10 km.
Pada km 90 saya minta permen lagi, dan bertahan untuk menempuh jarak 5 km. Kemudian pada km 80 sebenarnya saya ingin minta istri saya, Erna, untuk menggantikan saya, tetapi waktu saya lihat dari kaca spion, ternyata dia juga sudah tertidur. Karena itu saya terus menyetir …dan tetap di jalur cepat, karena saat itu memang kendaraan tidak terlalu ramai.
Beberapa saat kemudian …. Tiba-tiba terdengar suara keras ‘BUM’, segera saya terbangun dan saya lihat saat itu banyak debu beterbangan di sebelah kanan mobil. Saya segera sadar, demikian juga dengan istri dan anak-anak, mereka sangat kaget. Sambil menyetir mobil ke jalur lambat, saya berkata :”Saya ketiduran dan menabrak tembok pembatas jalan tol yang di tengah”. Istri saya berkata :”Kita masih dilindungi Tuhan”, dan saat itu kami berada di sekitar km 75.
Di depan saya ada dua buah bis, sedangkan di belakang agak jauh saya melihat melalui spion sebuah sedan merah, tetapi kemudian sedan itu melambat (mungkin karena melihat saya menabrak sesuatu, sehingga ia menjadi lebih hati-hati). Karena jalan sepi saya tetap menjalankan mobil dan menyusul bis yang ada di depan saya. Saat itu saya bersukur, karena Tuhan Yesus telah melindungi kami sekeluarga tanpa cedera apa pun, cuma kepala istri saja yang benjol, mungkin tertabrak kaca atau pegangan tangan untuk masuk di atas pintu, selebihnya tidak ada apa-apa lagi. Saya cuma berpikir pasti mobil bagian depan hancur, karena saya melihat cukup banyak debu saat itu.
Sampai tempat peristirahatan di Km 61 pada sekitar jam 12.00, kami berhenti dan setelah saya lihat ternyata bagian kanan mobil saya (Zenia 1300 cc, tahun 2004 warna biru metallic) tetap mulus, tidak ada bekas goresan apa pun, cuma saya lihat ban bagian depan berubah menjadi putih, karena terkena debu. Saya tidak habis pikir dengan benturan yang cukup hebat yang menggoncang kami semua hingga terbangun, ternyata tidak ada luka apa pun dan juga mobil tetap mulus. Puji Tuhan, ternyata Engkau sungguh mengasihi kami sekeluarga, walaupun kami berdosa, Engkau memberi pertolongan yang luar biasa dan tepat pada waktunya.
Setelah beristirahat, sambil pijat di kursi pijat listrik selama 15 menit, sekitar jam 13.00 kami melanjutkan perjalanan kembali dan jam 14.00 kami telah sampai dengan selamat di rumah kami di Danau Bogor Raya, Bogor.
Hanya puji Syukur yang dapat kami haturkan kepada Tuhan Yesus yang telah mengutus para malaikat untuk melindungi kami sekeluarga beserta dengan kendaraan yang kami pakai. Bukan hanya sekali malahan dua kali ! Terpujiah Engkau, Allahku yang luar biasa untuk selama-lamanya. Amin !

Minggu, 07 Juni 2009

Makna Hari-hari

Semua orang punya tujuh hari dalam seminggu. Berapa hari yang dapat
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Apa arti hari-hari tersebut untuk
kita? Mari kita coba lihat.

1. Senin adalah singkatan dari "Semangat Nan Indah"
Sebagian orang mengharap-harap tibanya hari Senin karena hari itu mereka mendapat uang. Yang telah libur, kembali berjualan sehingga uang masuk lancar lagi. Yang bekerja harian, berarti upah harian akan diterima kembali.

Sebagian orang tidak suka dengan hari Senin. Yang malas bekerja merasakan beban berat karena Senin berarti mulai bekerja kembali. Yang tadinya bisa santai di rumah, kini harus kembali masuk kantor. Anak sekolah kembali bersekolah, tidak bisa main-main Play Station lagi. Para ibu harus bangun pagi lagi untuk memasak makan pagi anak-anak yang akan berangkat sekolah. Ada yang menunggu-nunggu hari Sabtu lagi yang rasanya masih sangat lamaaaa.....

Apapun sikap yang kita pilih, tidak akan merubah hari Senin. Senin tetap datang. Senin tetap harus kita lalui entah kita senang atau tidak. Sikap mana yang akan kita pilih? Memulai hari Senin dengan menggerutu atau memulai hari Senin dengan Semangat Nan Indah?

2. Selasa adalah singkatan dari "Selalu Luar Biasa"
Ada orang yang berpendapat bahwa Selasa adalah hari yang biasa saja. tidak ada yang luar biasa. Mengapa begitu??? Mengapa kita tidak membuatnya menjadi hari yang luar biasa? Luar biasa atau tidak, bukan tergantung dari nama hari atau pekerjaan kita. Tapi tergantung dari sikap hati kita. Tiap pagi saya bermain skipping (main tali) sebanyak 300 kali. Saya merasakan bedanya, ketika hati sedang malas, ya main tali
jadi terasa berat. Tapi bila hati gembira, maka main tali menjadi ringan. Bahkan tanpa terasa bisa sampai 400 kali. Jadi saya selalu main tali sambil bernyanyi dan tersenyum. Hehehe...... ....

3. Rabu adalah singkatan dari "Rasakan bahagia dalam kalbu"
Apakah kita bersyukur hanya kalau kita mendapatkan sesuatu? Kalau sedang senang dan kita bersyukur, itu sih biasa. Tapi bagaimana kalau kita sedang ada masalah? Apakah kita menggerutu dan marah-marah? Apakah kita bisa mensyukuri setiap kejadian dalam hidup kita? Waktu anak saya masih kecil, dia sering menangis di malam hari. Padahal tiap hari saya harus bekerja. Tapi saya bersyukur bisa bangun di malam hari dan memberikan ASI kepada anak saya. Saya senang ketika di malam hari dia terjaga dan memanggil "Mama. Mama". Malah saya sengaja melarang baby sitter untuk bangun di malam hari dan mengurus anak saya. Saya pikir, toh tidak lama dia begitu. Nanti kalau dia sudah besar, dia tidak akan lagi memanggil "Mama. Mama" ketika terjaga di malam hari. Jadi saya nikmati keadaan itu. Saya syukuri saat-saat tiap malam saya bangun dan menggendong anak saya. Biarlah hati kita selalu dipenuhi rasa syukur. Biarlah kalbu berseri. Hati yang gembira adalah obat yang paling manjur.

4. Kamis adalah "Kami Sukses"
Apakah hari Kamis juga hari biasa? Bagaimana kalau kita membuatnya sebagai hari dimana kita sudah lebih sukses? Rasanya kita perlu mengingat kembali pentingnya "Berpikir Positif". Bagaimana kalau tiap minggu kita mendapatkan sukses? Bagaimana kalau tiap hari? Apakah mungkin? Tentu saja. Yang perlu dilakukan adalah selalu berpikir positif. Kapan saja, dimana saja, dan siapa saja......

Bila seseorang berkata kepada kita:"Wah, enak ya kerja disana?" Daripada berkata:"Enak apanya? Biasa saja kok.", mengapa kita tidak berkata:"Amin. "? Bila seseorang berkata:"Pasti kamu banyak uang."
Daripada berkata:"Ga kok. Siapa bilang banyak uang?" Lebih baik kita berkata:"Amin. ". Kalau nanti benar benar banyak uang, siapa yang menikmati? Kita sendiri kan? Asyiikkk.... ..

5. Jumat berarti "Juga Amat Hebat"
Seringkali Jumat menjadi hari yang kurang produktif karena sudah mendekati Sabtu, sehingga pikiran sudah ke hari libur. Mengapa menyia-nyiakan satu hari dalam hidup kita? Bagaimana kalau kita menjadikannya hari Jumat yang Juga Amat Hebat? Bagaimana kalau kita menggunakan hari ini untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tertunda? Memeriksa surat masuk? Mengevaluasi hari-hari kemarin? Mengatakan hal-hal indah yang belum sempat dikatakan?

6. Sabtu berarti "Saatnya Bersatu"
Hari Sabtu bisa menjadi hari yang produktif atau tidak produktif. Semuanya tergantung diri sendiri. Seorang Pengusaha justeru paling produktif di hari Sabtu karena dia bisa memeriksa semua pekerjaan, memantau hasil kerja karyawan, mencari ide baru, dan puluhan kegiatan lain yang sangat bermanfaat. Bahkan dia membuat hari Sabtu sebagai hari dimana dia mendengarkan semua masalah yang dihadapi ank buahnya.

Orang tua yang libur dan ingin membina kedekatan dengan anak-anaknya bisa memanfaatkan hari Sabtu untuk bermain bersama, berenang, makan bareng, membersihkan rumah bersama atau jalan-jalan. Daripada hanya duduk dan masing-masing nonton acara tv kesukaannya tanpa adanya komunikasi. Pasangan yang saling mencinta bisa menggunakan hari ini untuk saling mengerti bukan hari untuk bertengkar. Hayoo......

7. Minggu berarti "Mari ingat berkah seminggu"
Hari Minggu bisa dijadikan hari bermalas-malas atau bisa juga menjadi hari untuk mengevaluasi diri kita. Untuk mengevaluasi sikap kita. Apa yang telah dilakukan dalam seminggu? Apa yangsalah? Apa yang benar? Apa yang dapat kita lakukan lebih baik minggu depan? Apa rencana baru yang perlu dibuat? Bagaimana supaya minggu depan lebih sukses? Bagaimana caranya bekerja lebih baik? Bagaimana caranya agar tidak terlambat masuk kerja? Dan seribu satu kegiatan lain.

Dengan demikian hari Senin akan kita nantikan dengan semangat karena kita telah punya rencana yang akan diterapkan. Hari Senin menjadi awal minggu depan yang lebih sukses.

Give Thanks for Every Day in Your Life!
By Lisa Nuryanti. Expands Consulting.

Senin, 18 Mei 2009

Minggu, 17 Mei 2009

Tahapan Komunikasi dalam Keluarga

Komunikasi adalah dasar atau inti dari cinta kasih dalam keluarga. Bila tidak ada komunikasi, maka di dalam keluarga tersebut pasti tidak ada cinta kasih. Suami mendiamkan istrinya, demikian juga sebaliknya. Ayah yang tidak pernah berbicara dengan anak-anaknya. Kondisi seperti ini dapat diibaratkan seperti tubuh yang tidak dialiri darah, sebentar lagi pasti akan mati. Komunikasi itu adalah ’darah’ dalam keluarga; dengan adanya komunikasi maka ’darah’ akan mengalir, sehingga keluarga itu akan hidup.


Rm. Alfons Sebatu, Pr., dalam kotbahnya di Gereja Katedral pada hari Minggu, 17 Mei 2009 jam 09.00, mengatakan ada empat tingkatan komunikasi, yaitu :

1. Basa-basi.

Yang terjadi dalam keluarga, hanyalah sapaan singkat, seperti : ”Apa kabar?”, ”Selamat pagi”, yang hanya akan dijawab secara singkat oleh lawan bicara, dan relatif tidak memberikan makna berarti.

2. Informasi

Setingkat di atas komunikasi basa-basi, hanya menyampaikan / menceritakan suatu kejadian, misalnya ”Ada kejadian apa di sekolah hari ini?”, ”Tadi di kantor, pak Direktur marah besar karena ...”.

3. Opini

Tingkatan komunikasi ini lebih tinggi lagi, karena mulai mengungkapkan pendapat pribadi. Seorang istri bertanya : ”Menurutmu, bagaimanakah rasa masakanku hari ini ?”. Sang suami menjawab : ”Wah ... masakan kamu hari ini luar biasa enak, tetapi akan lebih baik bila sedikit ditambah cabai agar lebih pedas”. Nah komunikasi yang terjadi dalam hal ini merupakan berada dalam tahap opini, karena suami mengeluarkan pendapat pribadinya.

4. Pengertian

Tingkatan komunikasi yang tertinggi ini melibatkan perasaan dan pengertian dari kedua belah pihak. Suami yang menyadari bahwa istrinya sedang tidak enak badan akan berkata : ”Ma, walaupun acara ini penting, tetapi Papa menyarankan Mama tidak usah pergi. Lebih baik Mama istirahat, Papa dapat pergi sendiri kok ..”. Dan istri yang penuh pengertian akan menjawab : ”Terimakasih atas pengertian Papa, lain kali pasti Mama akan menemani Papa dalam acara penting ini. Hati-hati di jalan Pa, dan semoga acaranya sukses”.


Komunikasi dalam keluarga akan terjalin dengan lebih baik bila telah mencapai tahapan pengertian. Pengertian juga dapat diwujudkan dalam bentuk sentuhan atau pelukan. Sudahkan hal ini ada dalam keluarga kita ? Semoga ...

Use It or Loose It

Biasanya bila kita memiliki barang yang kita sayangi, maka kita akan menyimpannya dengan hati-hati agar tetap baik dan berfungsi pada saat kita akan menggunakannya di kemudian hari. Tetapi sekarang ada satu hal yang bila tidak kita gunakan, maka kita akan kehilangannya. Apakah itu?

Ada beberapa hal yang memiliki karakteristik tersebut, yaitu (1) Kesempatan, dan (2) Otak. Kesempatan memang hanya datang satu kali dan tidak akan terulang lagi, karena itu bila kita tidak menggunakannya saat kesempatan itu tiba, maka terpaksa kita tinggal menggigit jari karena ia sudah pergi. Untuk itu marilah kita mempersiapkan diri agar bila ada kesempatan, maka kita dapat menggunakannya dengan baik.

Menurut cerita, waktu seorang Professor ingin membeli otak manusia, maka ia akan memilih otak orang Indonesia, karena katanya otak orang Indonesia masih baru, jarang dipakai. Kalau barang yang jarang dipakai memang biasanya masih bagus dan akan dihargai lebih mahal. Tetapi untuk otak hal ini tidak berlaku, karena otak harus digunakan dan diisi terus; bila tidak dipakai maka otak tidak berguna.

Perlu kita ingat juga bahwa otak kita tidak akan pernah penuh; ia sanggup terus diisi dengan berbagai hal. Memori disimpan bukan di dalam sel otak, yang jumlahnya terbatas sekitar 1 triliun sel, tetapi di synapse yaitu perjumpaan antara satu syaraf sel otak dengan syaraf sel otak yang lain. Setiap sel otak dalam waktu satu detik dapat membuat 20.000 synapse; jadi dapat anda bayangkan kapasitas sel otak kita yang luar biasa itu. Dan tentu saja bila dilihat lebih jauh, yang lebih luar biasa adalah Tuhan Allah yang menciptakan semua itu.

Sebagai manusia, tugas kita adalah tidak menyia-nyiakan anugrah Tuhan tersebut, marilah kita menggunakan otak seoptimal mungkin untuk perkembangan diri kita, perkembangan ilmu pengetahuan dan berbagai bidang lainnya.

Jangan buat asumsi yang akan membatasi diri kita, misalnya saya kan sudah tua. Dalam acara Kick’s Andy di Metro TV hari minggu 17 Mei 2009, ditayangkan beberapa orang tua yang memiliki semangat luar biasa, yang kembali kuliah, entah S1, S2, atau pun S3, pada saat usia tua (ada yang usia 60, bahkan ada juga yang berusia 72 tahun). Semangat seperti inilah yang harus menjadi teladan bagi kita semua.