Selasa, 21 Agustus 2012

Kegagalan adalah Penyebab Keberhasilan[SKDAG896]


Saat Anda berusaha menghindari kegagalan, berarti Anda sedang berusaha menolak keberhasilan (Rahmatsyah).

Biasanya kita kecewa pada saat kita mengalami kegagalan, dan kita penuh sukacita pada saat kita mengalami keberhasilan. Apakah kegagalan itu sungguh jauh berbeda dengan keberhasilan? Sebenarnya antara keduanya dekat sekali; kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda.

Pada saat kita mengalami kegagalan maka kita perlu mengintrospeksi diri dan menganalisis faktor penyebab kegagalan tersebut, setelah itu persiapkan diri untuk belajar lagi, kemudian lakukan kembali dengan cara berbeda yang lebih baik. Dengan demikian, maka niscaya keberhasilan dapat segera kita genggam.

Jadi kita tidak perlu takut dan kecewa bila kita mengalami kegagalan, tetapi lakukan perbaikan,  maka saat itu kita sedang menuju ke keberhasilan.

Minggu, 19 Agustus 2012

Terus Belajar [SKDAG897]


Marilah kita terus belajar:
-          belajar bersabar dari sebuah kemarahan.
-          belajar mengalah dari suatu keegoisan.
-          belajar tegar saat kehilangan.
-          belajar bersyukur meskipun tak cukup.

Bila kita ingin meraih keberhasilan dalam hidup ini, maka salah satu hal yang perlu kita lakukan secara kontinu adalah belajar. Belajar dalam arti kata kita meningkatkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan juga kepribadian. Belajar untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan sudah banyak dibahas orang dan juga telah kita lakukan dalam kehidupn sehari-hari.

Bagaimanakah belajar untuk meningkatkan kepribadian? Ternyata hal ini tidak mudah, karena kita perlu melakukan penyangkalan diri dan mensyukuri semua hal yang telah kita alami. Saat kita dilanda kemarahan, kita perlu menyangkalnya dan saat itulah kita dapat belajar bersabar. Saat kita menderita akibat keegoisan atasan atau orang lainnya, maka saat itulah kita belajar untuk mengalah. Saat kita kehilangan anggota keluarga atau harta milik kita, maka saat itu kita belajar untuk tetap tegar, karena semuanya adalah milik Allah yang dititipkan pada kita. Demikian juga pada saat kita mengalami kekurangan, baik uang, makanan, atau kesehataan, maka pada saat itu kita pun dapat belajar untuk tetap bersyukur kepada-Nya karena Ia telah memberikan begitu banyak hal kepada kita.

Tentang Kemauan … [SKDAG895]


Siapa pun boleh memiliki kemauan, tetapi yang Anda mau belum tentu bisa dan yang Anda mau belum tentu layak/benar.

Mau atau mampu lebih dulu? Jelas “mau” harus ada lebih awal, karena hal ini memberikan motivasi kepada kita untuk melakukannya dengan baik dan motivasi untuk belajar; hal inilah yang pada akhirnya membuat kita menjadi “mampu”. Pada saat ada kemauan, maka selalu ada jalan keluar. Contoh seorang anak balita akhirnya mampu berjalan, karena ia memiliki kemauan untuk berjalan, sehingga walaupun ia menangis karena jatuh, ia tetap bangun kembali dan berjalan lagi. Hal itulah yang membuatnya menjadi dapat berjalan dengan baik.

Tetapi kemauan juga tetap belum cukup, karena yang menjadi kemauan kita belum tentu sesuai dengan rencana Allah, sehingga walaupun kita telah berusah mati-matian, tetapi tidak berhasil juga. Kemauaan yang kita miliki juga mungkin tidak benar di mata Tuhan, sehingga hal ini pun membut keinginan kita tetap tidak terwujud.

Jadi sebelum kita menyatakan kemauan, kita perlu terlebih dahulu bersujud di hadapan Tuhan dan menanyakan apakah keinginan kita tersebut sesuai dengan rencana-Nya. Siapkan saat hening untuk mendengarkan jawaban-Nya. Setelah itu sesuaikan rencana kita dengan rencana-Nya, dan kemudian baru kita laksanakan, maka semuanya niscaya dapat terwujud. Amin.

Jumat, 17 Agustus 2012

Jangan Menunggu! [SKDAG894]


Hidup bukan hanya menunggu badai berlalu, tetapi bagaimana kita dapat belajar menari dalam hujan.

Untuk meraih kesuksesan dalam hidup ini, kita perlu menjadi manusia yang proactive, bukan yang reactive atau pasive. Bila pasive maka orang itu hanya menunggu, tidak memiliki inisiatif. Sedangkan bila reactive, maka ia baru akan bergerak atau bekerja bila ada orang yang memerintahnya, sedangkan bila tidak maka ia diam saja. Hal ini berbeda dengan orang yang proactive¸ ia memiliki tanggung jawab dan mengetahui kewajibannya, sehingga ia segera melakukan semua tugasnya tanpa perlu lagi ada orang yang mengawasi atau memerintahnya.

Bila hari sedang hujan atau badai, maka marilah kita jangan hanya menunggu saja, tetapi secara proactive marilah kita melakukan berbagai hal yang dapat dilakukan, misalnya dengan membaca buku, belajar, atau menyelesaikan tugas lainnya sambil kita menunggu hujan berhenti. Hal itulah yang dimaksud dengan belajar menari dalam hujan.

Sebagai orang proactive marilah kita manfaatkan semua potensi yang telah Tuhan berikan kepada kita, baik waktu, tenaga, maupun ide dan keahlian kita untuk membuat hal yang bermanfaat bagi masa depan kita.

Berikan yang Berarti [SKDAG893]


Tidak perlu menjadi sempurna untuk disayang, tidak perlu istimewa untuk selalu diingat. Yang terpenting bagaimana kita dapat memberikan sesuatu yang berarti untuk seseorang yang kita sayangi.

Apa yang perlu kita lakukan terhadap orang yang kita sayangi? Ada orangtua yang hanya memberikan uang kepada anaknya, sehingga semua kebutuhan anak akan pakaian, makanan, dan mainan terpenuhi. Ada juga orang tua yang terus menerus mendampingi anaknya dalam setiap kesempatan, karena ia sangat sayang anaknya dan takut ia mengalami bahaya. Dan ada juga orang tua yang ingin memberikan ilmu dan pengetahuan kepada anaknya, sehingga ia mewajibkan anaknya untuk les berbagai hal.

Apakah semuanya dibutuhkan oleh si anak atau orang yang kita sayangi? Belum tentu, karena yang dia butuhkan tidak sama dengan yang kita inginkan. Kita seringkali memberikan yang tidak dibutuhkan oleh orang yang kita sayangi, bahkan mungkin sebenarnya tidak dia sukai juga. Untuk memberi kita perlu memberi yang dia butuhkan, apakah waktu, kasih sayang, dukungan atau yang lainnya? Berikanlah yang berarti, maka hal itu akan diingatnya dan membuat kita disayangnya.

Pemberian kita tidak perlu yang mahal, sempurna, atau istimewa, tetapi pemberian yang dilakukan dengan hati, ada kasih pada saat kita melakukannya, bukan memaksanya. Berikan juga hak untuk menolak, bila dia tidak membutuhkannya, dan kita tidak perlu menjadi sakit hati bila hal tersebut terjadi. Marilah kita membantu atu memberi kepada orang lain tanpa memaksakan kehendak kita, karena hal tersebut sebenanrya bukan suatu pemberian, tetapi suatu pemaksaan.

Minggu, 12 Agustus 2012


Prinsip DNA – Dream and Action [SKDAG892]

Apapun yang dibayangkan dan diyakini pikiran manusia, maka akan dapat tercapai olehnya (Napolen Hill).






 Semua yang terjadi di dunia ini sebenarnya terjadi dua kali; pertama saat kita membayangkannya dalam pikiran dan ke dua saat peristiwa tersebut terwujud menjadi kenyataan. Hal ini dapat kita pahami, karena semua yang kita katakan pada diri sendiri memiliki makna 100%; bila kita berkata “Bagaimana kalau saya lupa saat presentasi nanti?”, maka yang jadi kenyataan adalah kita menjadi lupa saat presentasi berlangsung. Untuk itu kita perlu mengatakan hal-hal yang positif pada diri kita sendiri, agar yang terwujud adalah hal positif yang kita harapkan.

Setiap manusia dikatakan perlu memiliki impian (dream), yaitu untuk menggambarkan apa yang diinginkan dan diharapkannya. Tetapi impian tersebut akan tinggal tetap jadi impian bila tidak ada tindakan (action), karena itu kita perlu menindaklanjuti semua yang telah kita bayangkan dan niscaya dengan kehendak Allah semua hal tersebut akan terwujud; itulah prinsip DNA (dream and action). Jadi mari kita terapkan prinsip DNA dalam setiap hal yang kita inginkan. 

Jumat, 10 Agustus 2012


Iman, Tidak Membutuhkan Penjelasan [SKDAG891]

Bagi yg memiliki iman, tidak dibutuhkan penjelasan apapun. Bagi yang tidak memiliki iman, tidak ada penjelasan yang masuk akal (St. Thomas Aquinas).

Manusia dengan pikirannya luar biasa sering menganalisis berbagai macam hal, untuk menentukan apakah hal tersebut mungkin terjadi atau tidak. Tetapi bila kita bicara iman, maka berarti kita dapat mempercayai berbagai hal tanpa perlu pembuktian ilmiah lagi.

Misalnya bila ada seseorang yang dikatakan oleh dokter, bahwa ia telah menderita kanker stadium empat. Tetapi karena doa dari teman-temannya ternyat a ia dapat sembuh kembali. Bagi orang yang beriman, hal ini merupakan rencana Allah yang berada di atas kemampuan akal manusia. Tidak perlu ada penjelasan yang masuk akal mengenai peristiwa tersebut.
Tetapi bagi orang yang hanya mengandalkan kepandaian dan kehebatan otaknya, maka ia menuntut suatu pembuktian yang masuk akal. Ia ingin mengetahui faktor apa yang menyebabkan orang itu sembuh dan sehat seperti sediakala kembali.

Manakah yang Anda pilih, percaya akan sesuatu yang tidak mungkin atau terus mempertanyakan, dan percaya setelah ada buktinya?