Senin, 31 Oktober 2011

Memberi Lebih Dulu [SKDAG349]

Lebih berbahagia memberi daripada menerima, karena itu berilah senyum pada setiap orang, waktu/dana/perhatian pada yang membutuhkan. Percayalah hasilnya akan kita tuai.

Pada umumnya manusia lebih suka menerima daripada memberi, baik dalam hal uang, ide, perhatian, dan lain-lain. Marilah kita lihat sebuah benih dapat tumbuh menjadi pohon yang besar, karena dia telah memberikan (dalam hal ini berarti mengorbankan) dirinya; tanpa pengorbanan benih tersebut, maka tidak akan ada pohon.

Kita pun sudah banyak menerima dari Tuhan, orang tua,dan orang-orang di sekelilling kita. Marilah kita hitung berapa banyak oksigen yang telah kita hirup sejak lahir dan bila dinilai dengan uang, ternyata jumlahnya sangat luar biasa, tetapi apa yang telah kita berikan pada Tuhan? Lalu lihat juga keberadaan diri kita saat ini; semua terwujud karena jasa orang tua, para guru, dan banyak orang lain, serta tentu saja dengan perkenaan Tuhan. Apa yang telah kita berikan pada mereka?

Mungkin kita tidak memiliki kesempatan untuk memberikan sesuatu kepada mereka, tetapi kita dapat melakukannya pada orang lain yang kita temui. Seperti pada film ’pay it forward’, untuk setiap perbuatan baik yang kita terima, bayarlah ke muka, artinya lakukan terhadap orang lain. Berikanlah senyum pada setiap orang yang kita temui, berikan waktu dan perhatian untuk orang-orang yang kita kasihi, berikan dana untuk yang membutuhkan. Dan jangan lupa juga untuk memberikan maaf dan pengampunan kepada orang-orang yang telah menyakiti kita. Lakukanlah semua dengan sukacita dan niscaya kita tidak akan kekurangan. Amin

Jumat, 28 Oktober 2011

Cara Memandang [SKDAG776]


Tidak penting bagaimana orang memandang kita, lebih penting bagaimana kita memandang orang lain, dan yang terpenting bagaimana kita memandang diri sendiri.

Banyak orang yang marah, karena dirinya tidak dipandang atau dipandang sebelah mata oleh orang lain; sebenarnya hal ini memang adalah hak orang itu, walaupun tidak tertutup kemungkinan hal tersebut terjadi karena tindak tanduk dan perbuatan kita sendiri. Daripada memikirkan orang lain, marilah kita melihat kepada diri sendiri terlebih dahulu; kita perlu menghargai setiap orang yang ada di sekeliling kita, karena Tuhan telah menciptakan setiap manusia dengan keunggulan dan keunikan masing-masing. Bila kita memandang rendah orang lain, maka secara tidak langsung sebenarnya kita pun memandang rendah penciptanya.

Tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri, karena hal inilah yang menentukan masa depan kita. Bila Anda berasumsi bahwa Anda adalah orang yang kurang beruntung, tidak berbakat, dan memiliki banyak kelemahan, maka memang hal tersebutlah yang terjadi dengan diri Anda. Kita perlu menghargai diri kita sendiri, karena kita adalah ciptaan Tuhan yang terbaik; puji, hormati, dan bersyukurlah atas semua yang ada pada kita, dan gunakan semua hal tersebut untuk pertumbuhan dan perkembangan diri kita sendiri.

Bila diri kita dipandang secara positif, maka kita pun dapat dengan mudah untuk menghargai orang lain dan memandang mereka dengan positif. Kemudian janganlah pikirkan sudut pandang orang lain terhadap diri kita. Yang penting marilah kita lakukan yang terbaik saat ini tanpa memedulikan pandangan dan pendapat mereka.

Jumat, 21 Oktober 2011

Tidak Cukup Hanya Bakat [SKDAG348]

Bakat tidak menjamin kesuksesan. Kegagalan kebanyakan disebabkan oleh pengerjaan yang kurang sungguh-sungguh dan tidak konsisten, bukan karena kekurangan bakat.

Siapakah yang dapat meraih sukses? Apakah hanya orang kaya? Orang pintar? Orang sehat? Jawabannya tidak. Semua orang, siapa pun dia dapat meraih sukses. Jadi kita tidak usah kecewa karena dilahirkan bukan dari keluarga kaya atau terhormat, tidak belajar di sekolah ternama, atau pun karena memiliki kekurangan fisik, karena semua itu tidak menjadi halangan bagi kita untuk meraih sukses.

Penentu keberhasilan ada di dalam diri kita sendiri. Bila kita mau berusaha, artinya mau melakukan action dengan sungguh-sungguh dan dilakukan secara konsisten, maka sebenarnya kesuksesan sudah dekat dengan diri kita. Bakat memang akan mempermudah untuk meraih keberhasilan, tetapi bila ia tidak didukung dengan semangat dan kesungguhan, semuanya menjadi sia-sia.

Dan jangan lupa, masih ada satu faktor lagi penentu keberhasilan, yaitu kuasa Tuhan. Tuhanlah yang menentukan keberhasilan kita, walaupun kita sudah berusaha mati-matian tetapi bila tidak sesuai dengan kehendak-Nya maka semua hal tersebut tidak akan terwujud. Karena itu janganlah lupa untuk selalu berserah kepada Tuhan dan menyelaraskan keinginan kita dengan kehendak dan rencana-Nya.

Kamis, 20 Oktober 2011

Mengelola Kemarahan [SKDAG775]

Orang hendaklah ... lambat untuk marah, sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran dihadapan Allah (Yakobus).

Kemarahan membuat semua manusia, siapapun dia dan apa pun kedudukannya, menjadi bodoh, karena saat ia sedang marah, maka ia tidak dapat lagi mengendalikan diri. Pada saat itu semua yang keluar dari mulutnya dan semua tindakannya tidak dipikirkan lagi, karena dilakukan hanya untuk memuaskan emosinya.

Saat kita diliputi kemarahan, maka tindakan kita pun pasti tidak sesuai dengan kehendak Allah yang mengajarkan hukum kasih kepada kita semua. Tindakan kita, karena pengaruh emosi, hanyalah untuk merusak atau menghancurkan segala sesuatu yang ada di sekeliling kita. Ketika emosi bekerja maka kita bertindak berdasarkan prinsip ‘bagaimana nanti’, sedangkan saat kita menggunakan logika atau otak kita maka kita bertindak berdasarkan prinsip ‘nanti bagaimana’. Sebelum bertindak hendaknya kita memikirkan resiko yang akan terjadi atas setiap tindakan yang kita lakukan atau perkataan yang kita keluarkan.

Karena itu pesan Allah, hendaknya kita lambat untuk marah. Kendalikan amarah kita dengan menundanya dengan menurunkan emosi atau dengan memikirkan akibat yang akan terjadi. Melampiaskan emosi dapat dilakukan dengan berbagai cara yang tidak merugikan, misalnya dengan menarik nafas dalam berkali-kali dan berdoa, atau Anda lari ke kamar mandi dan berteriak serta memukul air. Semua hal tersebut pastilah menurukan emosi atau rasa marah yang tersimpan dalam diri kita; setelah itu barulah kita berpikir untuk melakukan tindakan yang positif dan tidak merugikan orang lain.

Marilah kita belajar untuk mengelola kemarahan kita sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain, dan terutama tentu saja agar tidak merugikan diri kita sendiri.

Jumat, 14 Oktober 2011

Pedoman Hidup [SKDAG347]

Jiwa akan sepi tanpa teman,
Hati akan mati tanpa iman,
Cinta akan pudar tanpa kasih sayang, dan
Hidup akan sia-sia tanpa saling memaafkan.

Hidup kita akan menjadi sempurna dan berarti, bila kita menjalaninya dengan berdasarkan pedoman berikut.

Jiwa - yaitu pikiran, perasaan, dan kehendak yang ada dalam diri kita – akan sepi bila kita tidak memiliki teman. Karena tanpa teman, maka kita tidak menyalurkan pikiran, perasaan, dan kehendak kita; hal ini membuat jiwa kita menjadi kesepian.

Dengan memiliki hati, maka manusia dapat mencintai, menentukan benar atau salah, berempati; tetapi tentu saja semua ini perlu didukung dengan adanya iman, yaitu percaya pada semua hal yang Tuhan janjikan atau firmankan. Dengan iman, maka hati kita menjadi hidup dan dapat bertindak untuk mencintai dengan sungguh dan melakukan yang benar.

Cinta hadir dan bertumbuh bila kita terus merasakan kasih sayang, mulai dari saat dalam kandungan, pembinaan dalam keluarga, pendidikan dan tumbuh dalam masyarakat. Dengan adanya cinta, maka kita menjadi tidak egois, tetapi mampu untuk memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita, karena cinta atau kasih mampu untuk menutupi kesalahan atau pelanggaran. Dengan memaafkan, maka kita membuat hidup menjadi sungguh-sungguh berarti.

Kamis, 13 Oktober 2011

Jangan Kuatir! [SKDAG774]

Kekuatiran tidak dapat menghilangkan masalah, tetapi sudah membuat kita kehilangan damai dan sukacita! Don't worry be happy!

Masalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hidup, ia selalu hadir dalam hidup kita, dan menjadi tugas kita untuk mengatasinya. Seringkali kita kuatir terhadap berbagai hal yang belum atau akan terjadi dalam hidup kita, misalnya saat kita diminta untuk melakukan presentasi (apalagi untuk pertama kalinya). Kekuatiran yang ada di pikiran kita tersebut, ternyata tidak dapat menghilangkan atau menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi tersebut; sehingga kalau begitu untuk apa kita kuatir.

Masalah tetap terjadi dan perlu kita selesaikan, tanpa tergantung pada kekuatiran. Kekuatiran tidak menyelesaikan masalah, tetapi malah membuat kita menjadi tidak fokus. Pikiran kita tidak terpusat lagi pada masalah tersebut, tetapi mulai terjadi pengandaian, misalnya bagaimana kalau saya gagal, apa yang akan terjadi kalau saya dipecat dari pekerjaan sekarang. Kekuatiran membuat masalah yang sebenarnya kecil, menjadi suatu masalah yang besar. Jelas kekuatiran telah membuat kita menjadi tidak damai dan tidak bersukacita, karena fokus kita beralih pada berbagai hal yang negatif.

Untuk itu marilah kita selalu berserah pada Tuhan, dan percayalah bahwa Dia tidak akan membiarkan umat-Nya yang terkasih menjadi hancur. Janganlah kita kuatir, tetapi tetaplah optimis dan bersukacita; don’t worry be happy!

Senin, 10 Oktober 2011

Tentang Cinta [SKDAG773]

Cinta bukan keinginan atau kemauan, tetapi cinta adalah pilihan, penyesuaian, dan komitmen.

Dalam hubungan antar manusia, khususnya untuk membentuk keluarga, cinta terbentuk antara dua manusia, laki-laki dan perempuan, bukan hanya berdasarkan keinginan atau kemauan satu pihak saja, tetapi perlu ada kesepakatan antara ke dua belah pihak yang terlibat. Bila hanya salah satu pihak yang memiliki keinginan, maka cinta tersebut tidak akan terwujud.

Cinta adalah pilihan, artinya kita memiliki kebebasan untuk memilih pasangan hidup masing-masing, tentu saja yang terbaik, untuk menyemaikan cinta bersama dengan membentuk keluarga yang bahagia. Cinta juga merupakan penyesuaian, karena dengan berkeluarga maka kita tidak hidup sendiri lagi, tetapi telah memiliki pasangan. Artinya kita tidak dapat mengutamakan ego diri kita sendiri, tetapi perlu melakukan penyesuaian dengan kebiasaan, prilaku, dan sifat pasangan hidup atau anggota keluarga lainnya.

Kemudian cinta adalah komitmen; cinta dengan pasangan hidup hendaknya berlangsung seumur hidup, sehingga untuk itu dibutuhkan komitmen untuk menjalaninya. Komitmen artinya tetap memegang teguh kesepakatan yang telah dilakukan sejak awal. Dalam pernikahan, cinta tidak hanya terjadi selama pasangan hidup masih segar, sehat, dan cantik / tampan, tetapi berlangsung seumur hidup, sampai ia keriput, pikun, ataupun sakit.