Kamis, 30 Juni 2011

Menyenangkan Allah [SKDAG309]

Pujilah Allah meskipun kamu sedang sedih,
Berdoalah meskipun saat itu kamu sedang malas,
Tolonglah orang lain meskipun anda lelah.
Itulah tindakan yang menyenangkan Allah.

Bagaimanakah cara menyenangkan Allah? Jelas kita perlu untuk berbuat baik terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan, dan terutama kepada Allah sendiri. Tetapi semua perbuatan tersebut perlu kita lakukan secara konsisten, tidak terpengaruh pada situasi dan kondisi, atau pada perasaan kita sendiri. Banyak tindakan baik yang kita lakukan, tetapi bila hal tersebut hanya dilakukan insedentil maka belumlah cukup. Konsistensi berarti melakukan hal tersebut sebagai suatu kebiasaan yang telah menyerap dalam diri kita.

Memuji Allah perlu kita lakukan setiap saat, baik di saat sukacita, maupun pada saat sedih. Jangan biarkan perasaan mengendalikan diri kita untuk memuji-Nya atau tidak. Demikian juga dengan kemalasan; saat malas atau tidak kita perlu terus berdoa untuk berkomunikasi dengan Allah. Saat itu kita dapat berkata kepada Allah, tetapi jangan lupa memberikan waktu juga bagi-Nya untuk berkata-kata kepada kita.

Berbuat baik terhadap sesama, seperti menolong orang lain, perlu kita lakukan baik saat kita lelah maupun tidak. Bila kita menolong orang lain dengan tulus, maka ada sukacita tersendiri yang kita peroleh dan hal tersebut membuat kita menjadi penuh semangat kembali serta melupakan kelelahan yang kita alami.

Mari kita lakukan semua hal yang menyenangkan hati Allah secara konsisten, tanpa tergantung pada kondisi emosi, tubuh, atau apa pun juga. Amin …

Rabu, 29 Juni 2011

Manajemen Kemarahan [SKDAG740]

Apabila orang lain menceritakan keburukan kita, janganlah kita menjadi marah. Lebih baik mengubah keinginan untuk marah menjadi energi yang membuat kita menjadi lebih baik (AC Huang)

Marah merupakan suatu emosi negatif yang membuat kita bertindak tanpa berpikir lagi, akibatnya tentu saja tindakan kita menimbulkan penyesalan pada masa mendatang. Saat kita marah, akal sehat tidak kita gunakan, karena saat itu kita hanya ingin melepaskan kemarahan, tindakan saat itu tidak memikirkan resiko yang akan terjadi. Prinsip saat itu “bagaimana nanti”, padahal kita harus bertindak dengan prinsip “nanti bagaimana”.

Agar tidak menyesal, maka marilah kita mengelola kemarahan tersebut agar menjadi sesuatu yang berguna. Bila ada orang yang mengatakan bahwa kita bodoh, maka kita tidak perlu membuang energi untuk marah kepadanya, tetapi marilah kita gunakan energi tersebut ke arah yang positif dan berguna. Pertama-tama yang perlu kita lakukan adalah memaafkan orang tersebut, lalu kita gunakan energi kemarahan tersebut untuk belajar, sehingga dapat membuktikan bahwa kita ternyata adalah manusia yang pintar dan pandai.
Kemarahan membuat kita menjadi kecil, tetapi kemampuan memaafkan membuat kita menjadi manusia yang besar.

Janganlah membalas hal yang negatif kepada orang yang telah menyakiti atau menghina kita, tetapi gunakanlah hal tersebut sebagai motivasi untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita, dan juga bagi orang lain. Salah satu contoh lain yang ekstrim adalah saat pekarangan kita dilempari tahi binatang, maka janganlah marah, tetapi bersyukurlah karena kita telah mendapatkan pupuk yang berguna bagi tanaman di halaman rumah kita. Sanggupkah kita melakukannya? Marilah kita belajar sambil memohon kekuatan dari Tuhan, karena bagi Dia tidak ada yang mustahil …

Selasa, 28 Juni 2011

Ahimsa [SKDAG308]

Ahimsa (tanpa kekerasan) adalah etika tertinggi. Bila masih melakukan kekerasan terhadap sesama, kita tidak lebih baik dari binatang buas (Mahatma Gandhi).

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang terbaik karena ia memiliki akal/pikiran atau hati/budi. Dengan pikiran manusia dapat menganalisis, menciptakan berbagai hal baru, berpikir kreativitas, dan lain-lain; sedangkan dengan hati, kita dapat membedakan yang benar dengan yang salah, mencintai, merasakan, dan lain-lain. Keduanya penting, tetapi bila kita diminta untuk memilih yang paling penting, maka hati jelas jauh lebih penting daripada pikiran.

Apa yang terjadi bila ada manusia yang luar biasa cerdas, tetapi tidak memiliki hati, sehingga ia dapat bertindak dengan kejam untuk mewujudkan cita-citanya? Orang seperti ini akan menjadi sangat berbahaya, karena ia kejam tetapi sekaligus juga jenius, sehingga ia relatif sulit dikalahkkan atau ditaklukkan.

Dengan adanya hati, maka manusia diharapkan tidak melakukan kekerasan terhadap sesama. Mahatma Gandhi mengatakan bahwa etika tertinggi adalah ahimsa (tanpa kekerasan). Bila kita melakukan kekerasan, maka kita sebenarnya tidak lebih baik dari seekor binatang buas, karena kita tidak menggunakan hati dan pikiran yang telah dianugerahkan Tuhan. Dengan perkataan lain, sebenarnya kita tidak memiliki kasih.

Minggu, 26 Juni 2011

Adakah Tuhan di hatimu? [SKDAG307]

Milikilah hati yang tak pernah membenci,
Milikilah senyum yang tak pernah memudar,
Milikilah kata yang tak pernah menyakiti,
Itulah tandanya Tuhan di hatimu.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita sering mengalami berbagai hal yang tidak menyenangkan, misalnya dihianati atau ditipu teman, mengalami musibah. Semua hal tersebut merupakan bagian dari jatuh bangunnya hidup kita; ada sukacita, tetapi ada juga dukacita. Saat dipenuhi sukacita rasanya tidak ada masalah, karena semua dapat kita jalani dengan baik. Tetapi bagaimana kita menjalani hidup saat kita sedang mengalami duka?

Saat dihianati teman, apakah kita membencinya atau dapat memaafkannya? Sanggupkah kita tetap tersenyum kepadanya? Membalas penghianatannya atau tetap mengasihi dia dengan sepenuh hati? Bila mengutamakan ego dan logika, maka kita pasti membenci orang yang sudah menghianati kita, membenci dia setengah mati, dan tidak akan tersenyum bila berjumpa dengannya.

Tetapi semua hal negatif tersebut dapat kita buang, bila kita mengandalkan Tuhan, karena Tuhan adalah kasih. Bila Dia bertahta di dalam hati kita, maka kita tetap dapat mengasihi musuh atau orang yang sudah menyakiti kita. Kita mampu untuk memaafkannya, tetap tersenyum kepadanya, dan tetap mengasihinya dengan sepenuh hati.

Marilah kita tahtakan Tuhan di hati kita, sehingga kita penuh dipenuhi dengan kedamaian dan sukacita, tidak peduli apa pun tindakan orang lain yang ada di sekitar kita. Mampukah? Bersama Tuhan tidak ada yang mustahil …

Persahabatan [SKDAG306]

Persahabatan muncul bila kamu menanam cinta kasih, dan sahabat sejati tidak akan mempersoalkan apa pun, apa lagi hal-hal yang kecil.

Sahabat merupakan orang yang dapat kita percayai; selalu siap untuk membantu, dan tidak mempersoalkan hal-hal yang tidak penting. Dasar dari persahabatan adalah cinta kasih; bila Anda sungguh-sungguh mengasihi seseorang, dan ia pun mengasihi Anda dengan sungguh-sungguh, maka ia merupakan sahabat Anda.

Tidak mudah memang untuk mencari seorang sahabat sejati, karena ia harus sehati dengan Anda. Ia tidak memanfaatkan diri Anda dan mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Hal yang sama pun harus Anda miliki; dengan demikian maka Anda dan dia memang benar-benar sahabat sejati yang sehati dan saling membutuhkan.

Apakah di antara dua orang yang bersahabat tidak pernah ada perselisihan? Tidak, pasti pernah terjadi perselisihan atau pertengkaran di antara mereka, tetapi kejadian tersebut segera dapat dilupakan dan pulih kembali, karena mereka saling mengasihi dengan sepenuh hati. Perselisihan atau pertengkaran itu merupakan bumbu-bumbu persahabatan, yang seharusnya membuat persahabatan menjadi semakin erat.

Bila perselisihan itu menimbulkan perpecahan, maka di antara mereka kini ada ketidaksehatian, sehingga sekarang lebih mengutamakan kebutuhan diri masing-masing. Ada pepatah yang mengatakan bahwa “Lebih mudah mencari 1000 musuh daripada mencari seorang sahabat sejati”. Nah marilah kita mengasihi orang lain dengan sepenuh hati, agar ia mau menjadi sahabat sejati kita. Tidak mudah tetapi bukan berarti tidak mungkin …

Sabtu, 25 Juni 2011

Sabar dan Memaafkan [SKDAG739]

Sikap sabar hanya bisa terlihat saat masalah muncul.
Sikap memaafkan hanya bisa terlihat saat kemarahan muncul.

Banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang sabar; mungkin saat itu ia benar sedang sabar, karena ia berada dalam kondisi bahagia, penuh sukacita, pulih dari sakit, dan lain-lain. Tetapi apakah ia tetap menjadi manusia yang sabar saat ia mengalami godaan atau masalah. Nah … bila kita mampu mengendalikan diri saat masalah muncul, maka memang kita adalah orang yang sabar. Orang sabar mampu mengendalikan emosinya; ia tidak mudah marah atau tersinggung walau pun saat itu ia sedang mengalami penghinaan atau pelecehan.

Biasanya pada saat demikian, maka amarah yang akan muncul pada orang yang tidak sabar, karena ita tidak mampu mengendalikan diri lagi. Saat itu ia tidak lagi menggunakan pikirannya, yang ia inginkan saat itu adalah memuaskan perasaannya, dalam hal ini perasaan marah yang ada pada dirinya. Apa yang terjadi setelah kemarahan itu lewat? Apakah ia sekarang mampu memaafkan orang yang telah mengganggunya tersebut?

Peristiwa yang telah terjadi pada masa lalu, tidak dapat kita ubah lagi. Yang dapat kita lakukan hanyalah mengubah dampak dari peristiwa tersebut. Kita perlu dapat melihat peristiwa tersebut dari sudut pandang lain yang bermakna positif Bila kita mampu melakukan hal ini maka peristiwa tersebut akan lebih mudah untuk kita maafkan.
Misalnya saat atasan memarahi Anda, kita pun mungkin marah tetapi tidak dapat melakukannya, sehingga kita hanya memendamnya. Saat itu Anda mungkin tidak dapat menerima alasan apa pun yang menyebabkan atasan memarahi Anda. Tetapi marilah kita mengubah pola pikirnya sehingga kita mampu menyadari bahwa dengan memarahi sebenarnya atasan sedang mendidik kita untuk lebih maju; hal itu pun menunjukkan bahwa dia memiliki perhatian kepada Anda.

Rabu, 22 Juni 2011

Berterimakasih dan Berpasrah pada Tuhan [SKDAG738]

Berterima kasihlah kepada Tuhan untuk semua yang anda dapat. Pasrahkanlah kepada Tuhan untuk semua yang anda perlukan.

Tuhan selalu mendampingi kita dalam setiap aspek kehidupan; Dia menginginkan kita untuk menyapanya melalui doa, meminta segala kebutuhan, bersyukur atas segala pemberian-Nya, serta selalu memuji dan menyembah-Nya.

Bila kita membutuhkan sesuatu, datanglah ke hadapan-Nya dan katakan kebutuhan kita kepada-Nya melalui doa kita. Percayalah bahwa Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita, tetapi tentu saja menurut kehendak-Nya sendiri, yang mungkin berbeda dengan kehendak pribadi kita. Kita perlu mensyukuri dan berterimakasih atas semua yang kita peroleh, karena pasti Tuhan memberikan yang terbaik bagi kita.

Tuhanlah sumber pengharapan kita; jadi saat kita merasa sudah tidak ada jalan lagi untuk menyelesaikan masalah berat yang sedang kita hadapi. Datang dan bersujudlah di hadapan-Nya, maka Dia pasti membuka jalan secara luar biasa untuk menyelesaikan masalah kita. “Dia buka jalan, saat tiada jalan …” karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.