Selasa, 31 Mei 2011

Mari Berjiwa Besar [SKDAG731]

Berjiwa besar membuat kita mampu untuk memaafkan orang lain dan tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan.

Manusia secara tidak sadar memang dilatih untuk lebih memperhatikan berbagai hal yang negatif, dibandingkan dengan hal-hal yang positif. Cobalah Anda tarik kesimpulan dari tiga soal / hubungan matematika berikut ?
3 + 4 = 8
4 – 2 = 2
7 + 2 = 9

Sebagian besar orang akan mengatakan bahwa dari tiga soal di atas satu salah atau salah satu atau yang pertama salah. Sedikit orang yang akan mengatakan bahwa dua benar, padahal kan jumlah yang benar lebih banyak daripada yang salah.

Untuk itu marilah kita berubah menjadi manusia yang berjiwa besar, sehingga kita memiliki kemampuan di atas orang rata-rata. Bila ada orang yang bersalah kepada kita, maka kita mampu memaafkan orang itu dan tidak dipenuhi oleh perasaan benci dan permusuhan dengan orang tersebut. Marilah kita belajar mengasihi semua orang termasuk yang sudah menyakiti kita. Sulit? Betul, memang tidak mudah, tetapi marilah kita bersandar pada kuasa Tuhan, karena Dia lah yang memampukan kita untuk melakukan hal tersebut …

Senin, 30 Mei 2011

Lakukan untuk Orang Lain Lebih Dahulu [SKDAG296]

Jika ingin bahagia, usahakan agar orang-orang lain juga bahagia (Russell).
Jika ingin dicintai seseorang, cintailah dia dan bersikaplah agar layak dicintai (Ben. Franklin)

Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri; kita membutuhkan dan dibutuhka oleh orang lain. Walaupun demikian seringkali kita terlalu egois, hanya mementingkan diri sendiri tanpa mempedulikan kepentingan orang lain. Padahal kita seharusnya mencintai sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri, bahkan seharusnya kita mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri kita sendiri.

Berdasarkan hal itu, bila kita ingin dihormati orang lain, maka kita pun perlu terlebih dahulu menghormatinya. Bila kita ingin bahagia, maka kita perlu membahagiakan orang lain terlebih dahulu, demikian juga bila kita ingin mencintai orang lain, maka kita pun perlu mencintai orang lain. Selain itu tentu saja kita pun perlu menjadi pribadi yang memang layak untuk dihormati, dibahagiakan dan dicintai.

Jadi kita perlu memperbaiki kualitas diri kita terlebih dahulu, dan setelah itu tidak lupa untuk melakukan yang terbaik bagi orang lain. Dengan melakukan dua hal ini, niscaya hidup kita menjadi lebih penuh dengan sukacita dan damai sejahtera.

Minggu, 29 Mei 2011

Mari, Salurkan Berkat … [SKDAG730]

Berkat tidak dapat disimpan; ia akan raib jika tidak disalurkan. Biarkan berkat itu menyebar ke segala penjuru demi Kebahagiaan, Kedamaian, dan Kesuksesan semua makhluk hidup.

Tuhan sudah memberikan berbagai anugrah dan berkat kepada kita semua. Kemampuan bernafas dan Oksigen yang tersedia dengan bebas merupakan anugrah terbesar dan utama bagi kita semua. Selain itu kita telah memiliki kekayaan, harta benda, berbagai kepintaran, ketrampilan, dan lain-lain; semua berasal dari Tuhan dan sebagian besar kita memperolehnya secara gratis dan tanpa usaha apa pun.

Bila semua yang kita miliki berasal daripada-Nya, maka sebenarnya semua itu merupakan milik Tuhan yang dititipkannya kepada kita. Artinya Dia dapat mengambil balik milik-Nya setiap saat dari tangan kita, apalagi bila Ia melihat bahwa semuanya hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi saja dan tidak memiliki nilai positif bagi orang-orang lain.

Ada perumpamaan, seorang tuan yang akan pergi jauh, memanggil tiga orang kepercayaannya. Kepada orang pertama ia memberikan uang Rp. 100 juta, kepada orang ke dua ia memberikan Rp. 50 juta, dan pada orang ke tiga ia memberikan Rp. 10 juta. Waktu tuan itu pulang, ia menanyakan uang titipannya kepada ke tiga orang tersebut. Orang pertama melaporkan bahwa uang tersebut telah diolahnya dan menghasilkan Rp. 100 juta, demikian juga orang ke dua, yang telah menghasilkan uang Rp. 50 juta. Melihat hal itu tuan tersebut sungguh gembira, dan memberikan uang tersebut beserta hasilnya kepada hamba-hamba yang dapat dipercaya tersebut. Tetapi orang ke tiga yang takut karena tuannya sangat galak, maka ia hanya menyimpan uangnya di dalam tanah. Saat ditanya tuannya, ia mengembalikan uang Rp. 10 juta; melihat hal ini, tentu saja tuannya marah dan menghukum orang tersebut karena tidak dapat dipercaya, dan uang Rp. 10 juta diberikannya kepada orang pertama yang telah menghasilkan banyak.

Dengan mengingat hal tersebut, maka marilah kita menggunakan semua berkat yang telah diberikan-Nya tersebut kepada kita, demi membantu lingkungan, agar orang dan juga mahluk hidup lain memiliki kebahagiaan, kedamaian, dan kesuksesan. Janganlah kita takut untuk menggunakan semua berkat yang telah kita terima demi berbagai hal positif yang bermanfaat bagi semua ciptaan Tuhan.

Sabtu, 28 Mei 2011

Tataplah Masa Depan yang Cerah [SKDAG295]

Hadapkan wajahmu ke cahaya matahari, maka bayangan gelap jatuh di belakangmu (M. Gandhi).
Lihatlah masa depan yang terang, maka kamu tidak melihat masa lalu yang kelam.

Bila kita berjalan ke arah yang terang, matahari atau lampu yang menyala, maka kita tidak akan melihat bayangan kita sendiri, karena bayangan tersebut berada di belakang kita. Semakin dekat kita ke sumber cahaya, maka bayangan yang muncul di belakang kita pun semakin besar. Bila kita berjalan menjauhi terang, maka yang tampak adalah kegelapan, yaitu daerah yang tertutup oleh bayangan kita sendiri.

Hal ini menunjukkan bila kita melakukan dan bertindak benar, maka kita sedang menuju terang. Diri kita pun menjadi cerah, penuh sukacita, sedangkan kegelapan, yang melambangkan kekacauan dan dukacita, berada di belakang dan menjauhi kita.

Analogi lain yang dapat kita peroleh dari hal ini adalah masa depan yang kita jalani memiliki potensi yang luar biasa, karena itu marilah kita merancang dan membuat masa depan yang terang benderang. Bayangan melambangkan masa lalu, yang mungkin disertai kegagalan dan kekecewaan. Jadi dalam menjalani hidup ini, janganlah terpaku akan kehidupan masa lalu yang penuh kegelapan, tetapi marilah berjalan menuju terang untuk membuat masa depan yang gilang gemilang.

Jumat, 27 Mei 2011

Kerendahan Hati [SKDAG729]

Kerendahan hati menunjukkan kekuatan. Hanya orang yang berjiwa kuat dapat bersikap rendah hati, sehingga mau mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.

Banyak orang yang tidak mau mengakui keunggulan dan kelebihan orang lain; bahkan ada orang yang berani melakukan perbuatan yang licik untuk menjatuhkan orang tersebut atau mencegahnya memperoleh keberhasilan. Orang seperti ini jelas sangat egois, menganggap dirinya yang terbaik dan tidak mau mengakui keunggulan orang lain.

Kita harus ingat bahwa di atas langit masih ada langit; janganlah pernah merasa bahwa diri kita yang paling hebat. Ingat juga bahwa setiap manusia memiliki keunggulan masing-masing dan tidak ada seorang manusia pun yang unggul di segala bidang. Mungkin ia unggul dalam suatu bidang tertentu, tetapi tentu saja hal ini pun tidak berlangsung untuk selamanya, karena tidak lama lagi akan ada orang yang memiliki teknik atau pengetahuan baru, sehingga orang ini sekarang menjadi lebih unggul lagi.

Janganlah iri bila melihat ada orang lain yang lebih unggul atau lebih baik daripada diri kita. Milikilah kerendahan hati dan jadikanlah orang itu teladan bagi diri kita; jangan segan-segan untuk mencontoh dan belajar dari orang tersebut. Janganlah segan untuk belajar dari orang lain, tanpa memandang umur, kedudukan, suku bangsa atau apa pun juga, karena hal inilah yang membuat diri kita menjadi semakin maju dan semakin baik.

Selasa, 24 Mei 2011

Lebih Baik Gagal daripada Diam! [SKDAG294]

Yang membuat kita gagal bukanlah jatuh, melainkan tidak melakukan apa-apa. Bila kita sudah mencoba, maka kita belajar sesuatu, tetapi bila diam saja, tidak ada hasil.

Dalam melakukan sesuatu, seringkali kita mengalami kegagalan; hal ini merupakan suatu hal yang lumrah, karena kegagalan tersebut merupakan suatu proses belajar. Dalam hal ini yang penting kita tidak boleh menyerah, tetapi belajar lagi lalu melakukan kembali hal tersebut tentu saja dengan cara dan usaha yang berbeda. Jadi dalam menghadapi kegagalan pun kita perlu bersyukur karena ternyata selalu ada manfaat positif di balik kegagalan tersebut.

Kegagalan jauh lebih baik daripada tidak berani melakukan apa pun, karena bila kita tidak berani melakukan maka kita pasti gagal, tetapi bila kita mencoba masih ada kemungkinan untuk berhasil. Jadi janganlah pernah menyerah sebelum mencoba; lebih baik mencoba dan melakukannya daripada tidak melakukan apa pun.

Lebih baik lagi saat kita mencoba melakukannya, kita pun telah memiliki persiapan dan perencanaan yang matang. Hal ini tentu saja membuat kita tidak hanya asal mencoba, tetapi mencoba secara matang, sehingga kemungkinan untuk berhasil pun menjadi lebih meningkat.

Daripada diam lebih baik mencoba, tetapi mencoba perlu persiapan dan perencanaan yang matang. Dalam mencoba, kita tidak cukup hanya bermodalkan kenekadan, karena nekad hanya merupakan suatu perjudian. Jadi dalam mencoba kita pun tidak boleh membuang berbagai sumber daya sia-sia tetapi melakukannya dengan persiapan yang matang.

Senin, 23 Mei 2011

Kualitas Upaya … [SKDAG728]

Kita sudah terlambat memperbaiki masa lalu tetapi kita masih dapat memperbaiki masa depan melalui kualitas kerja hari ini. Kualitas nasib ditentukan oleh kualitas upaya.

Kualitas upaya yang kita lakukan menentukan hasil yang kita peroleh. Seringkali orang mengatakan bahwa hasil yang diperolehnya hanya ditentukan oleh nasib. Nasib tidak ditentukan oleh siapa pun, tetapi oleh usaha yang kita lakukan sendiri. Untuk mendapatkan hasil yang baik dan memuaskan, maka kita perlu melakukan upaya atau usaha semaksimal mungkin.

Masa lalu sudah tidak dapat diperbaiki lagi, karena waktu tidak mungkin diputar balik. Tetapi masa depan masih dapat kita tentukan sendiri. Hasil seperti apa yang kita harapkan dimasa depan sangat tergantung pada kualitas kerja kita sekarang. Jadi dengan memperbaiki kualitas kerja kita hari ini maka kita akan mendapatkan hasil di masa depan yang lebih baik, sesuai dengan kerja keras hari ini.

Kita perlu mencontoh dari seorang anak kecil yang tidak henti-hentinya belajar berjalan; walaupun ia jatuh dan menangis karena sakit, tetapi ia bangkit kembali dan berjalan lagi dengan tertatih-tatih. Bila dia tidak berupaya untuk melakukan hal tersebut, maka pasti setelah dewasa, ia hanya bisa merangkak.