Kamis, 30 September 2010

Bersyukur Dalam Segala Hal [SKDAG189]

Jika keadaan berjalan sesuai kehendak kita, maka dengan mudah kita dapat bersyukur. Bagaimana bila kita dalam kesulitan/kegelapan?
Tuhan menginginkan kita bersukur dalam segala hal.

Pada saat semua rencana dan keinginan kita terwujud, maka dengan mudah kita dapat bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan, dan mengatakan ”Terimakasih Tuhan, Engkau sungguh baik ... Aku bersyukur kepada-Mu”. Tetapi apa yang terjadi pada saat kita sedang sakit, perekonomian terpuruk, dan sedang menghadapi berbagai hal yang tidak kita inginkan? Sanggupkah kita juga bersyukur pada saat kondisi seperti ini?

Sebelumnya marilah kita lihat dulu mengenai dua hal berikut:
1. Allah kita adalah Allah yang maha pengasih; Dia mengasihi seluruh umat-Nya, tanpa membeda-bedakan berdasarkan perbuatan kita, agama, suku bangsa, dan lain-lain. Dia memberikan hujan dan sinar matahari kepada semua orang. Dia pun pasti tidak pernah membuat rancangan duka cita untuk kita, tetapi Dia membuat rancangan kedamaian yang indah dan terwujud tepat pada waktunya.
2. Rencana manusia seringkali tidak sesuai dengan rencana Tuhan; rencana kita biasanya bersifat jangka pendek dan lebih mementingkan diri sendiri, sedangkan rencana Tuhan bersifat jangka panjang dan universal.

Berdasarkan ke dua hal tersebut, maka sudah seharusnya kita selalu bersyukur kepada Tuhan dalam segala hal; semua kesusahan atau kebahagiaan perlu kita persembahkan kepada-Nya. Misalnya saat Anda diberhentikan dari pekerjaan, maka saat itu yang ada hanyalah kekecewaaan, boro-boro dapat bersyukur. Ternyata beberapa waktu kemudian Tuhan membukakan jalan, sehingga kita dapat berwirausaha dan mengalami kesuksesan yang luar biasa. Saat itulah Anda baru mengerti mengenai rencana Tuhan dan bersyukur bahwa dulu Anda diberhentikan dari pekerjaan yang lama, karena kalau tidak Anda tidak akan menjadi pengusaha yang sukses.

Jadi marilah kita bersyukur dalam segala hal, karena rencana Tuhan pasti indah dan terjadi tepat pada waktunya. Amin ...

Rabu, 29 September 2010

Indahnya Berbagi [SKDAG631]

Bila masalah tidak kita curahkan ke orang lain, maka akan menumpuk dalam diri kita dan membuat kita menderita. Uang dan ilmu pun hendaknya kita bagikan juga (D. Agus Goenawan).

Laut Mati memiliki kadar garam yang sangat tinggi, sehingga kita tidak tenggelam saat berenang disana. Hal ini terjadi karena air dari Laut Mati (sebenarnya berupa danau) tidak mengalir ke laut lepas, sehingga air terbuang hanya melalui penguapan, dan akibatnya kadar garam dan mineral di tempat itu semakin tinggi, sehingga tidak ada binatang yang dapat hidup disana.

Hidup manusia harus seimbang, bila ada yang masuk maka harus ada yang keluar. Secara fisik bila kita menghirup udara, maka kita pun mengeluarkannya kembali. Demikian juga saat kita makan, sisanya akan dibuang dan hasilnya berupa energi kita pakai, sedangkan yang tidak terpakai tersimpan di dalam tubuh, sebagian besar menjadi lemak. Coba bayangkan apa yang terjadi bila banyak makanan yang masuk ke dalam tubuh kita, tetapi sedikit yang terpakai dan terbuang! Tubuh kita bukan lagi gemuk, tetapi gembrot …

Saat kita memiliki masalah pun, janganlah disimpan dan dipendam dalam diri sendiri karena menyebabkan kita menjadi sakit. Kita perlu bantuan orang lain untuk mencurahkan segala masalah dan keluhan kita, sehingga kita menjadi lapang kembali. Nah bila masalah saja perlu dibagikan bagaimana dengan ilmu dan uang? Mungkin banyak orang yang mau membagikan ilmu, karena ilmu bila dibagikan tidak menyebabkan kita berkurang, malahan ilmu kita pun menjadi bertambah. Tetapi apa yang terjadi bila kita membagikan uang? Memang uang kita berkurang, tetapi percayalah uang kita tidak akan habis, karena rejeki akan mengisi kembali uang yang telah kita alirkan kepada orang lain yang memang membutuhkannya. Janganlah takut untuk membagikan uang kita untuk berbagai tindakan yang benar dan bermanfaat, karena semua harta kita di dunia adalah titipan dari Tuhan. Harta itu tidak dapat kita bawa mati … jadi marilah kita berbagi dan nikmatilah keindahannya. Amin …

Selasa, 28 September 2010

Titik Lemah Manusia [SKDAG188]


Titik lemah manusia yang diserang iblis adalah kekayaan, nafsu dan kehormatan. Sadarilah kelemahan itu dan bentengilah dengan hidup doa yang baik.

Manusia merupakan ciptaan Allah terbaik yang secitra dengan-Nya, tetapi walaupun demikian ternyata manusia memiliki kelemahan yang sering diserang iblis, yaitu kekayaan, nafsu, dan kehormatan. Semua kelemahan ini muncul karena ego manusia sendiri yang bersifat serakah, ingin dihormati, dan ingin menang sendiri.

Ada orang mengatakan bahwa kelemahan manusia, khususnya pria, adalah harta, tahta, dan wanita, yang dapat disingkat menjadi ”hartawan” atau ”3-ta”. Banyak manusia yang jatuh karena mengejar harta atau kekayaan, sehingga dia menghalalkan segala cara untuk memperolah harta tujuh turunan. Hal ini dapat kita lihat banyak pemimpin negara yang jatuh karena harta.

Kemudian ada juga manusia yang tergila-gila dengan kedudukan, kehormatan, atau tahta; demi memperoleh suatu jabatan tertentu maka ia mengorbankan berbagai hal lainnya. Saat ini kita pun dapat melihat banyak calon kepala daerah yang melakukan pembelian suara, dengan tujuan agar dirinya yang terpilih. Selain itu juga tidak sedikit manusia, termasuk olahragawan terkenal dan pemimpin negara, yang jatuh karena faktor wanita; artinya mereka tidak dapat mengendalikan nafsu sex-nya.

Jadi sebagai manusia kita perlu berhati-hati terhadap ketiga faktor kelemahan ini. Kita perlu dekat dan bersandar pada Tuhan yaitu dengan selalu berkomunikasi kepada-Nya melalui doa-doa yang kita lakukan. Bila kita memiliki kehidupan doa yang baik, maka hal ini menjadi benteng bagi kita untuk mengatasi godaan si iblis.

Senin, 27 September 2010

Kekuatan Hati [SKDAG630]

Untuk mengalahkan hambatan dibutuhkan bukan hanya akal dan kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan hati serta bersandar pada Tuhan (D. Agus Goenawan)

Beberapa waktu yang lalu, saya diberi kesempatan oleh Allah untuk naik ke atas Gunung Sinai di Mesir, yaitu tempat Allah memberikan dua loh batu kepada Nabi Musa yang berisikan Sepuluh Perintah Allah. Ternyata perjalanan yang ditempuh tidak mudah, kami harus berangkat tengah malam dari hotel tempat menginap, dan perjalanan diawali dengan naik onta selama hampir dua jam sampai ke satu warung tempat istirahat.

Dari seluruh anggota rombongan, yang berjumlah 45 orang, hanya 25 orang yang siap untuk naik ke atas Gunung Sinai, sedang yang lainnya lebih memilih untuk terus tidur di hotel. Waktu sampai di warung tempat istirahat, ternyata ada seorang bapak dari rombongan lain yang telah turun, tetapi tangannya patah karena jatuh di tangga-tangga gunung batu. Melihat hal ini mungkin ada sebagian orang yang mengalami ketakutan dan berpikir dua kali untuk naik ke atas gunung; selain itu ada juga yang kepalanya pusing dan kecapaian setelah naik onta sehingga memilih untuk tinggal di warung saja daripada meneruskan perjalanan.

Sebagian rombongan yang tersisa meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki tetapi ternyata hanya 11 orang yang akhirnya berhasil mencapai puncak, di antaranya ada dua orang ibu yang sudah berusia di atas 50 tahun dan salah satu di antaranya menderita sakit lutut. Beberapa orang bapak-bapak dan anak muda yang lebih segar ternyata hanya mencapai lereng; apa yang membedakan mereka? Ternyata bukan hanya kekuatan fisik yang dibutuhkan, tetapi kekuatan hati, semangat, dan impian untuk mencapai tujuan (puncak Gunung Sinai), serta tentu saja bersandar kepada kekuatan Tuhan.

Hal yang sama terjadi saat kita menghadapi berbagai masalah, yang mungkin secara logika tidak dapat kita selesaikan. Tetapi dengan memiliki pengharapan dan iman kepada kuasa Allah, maka semuanya dapat terjadi dan terselesaikan dengan baik. Yang perlu kita lakukan adalah tetap setia dan percaya kepada Allah, dan selanjutnya Dia yang akan menyelesaikannya bagi kita secara ajaib. Amin …

Minggu, 26 September 2010

Jalan Tuhan [SKDAG187]

Kita mohon setangkai bunga pada Tuhan, tetapi Ia memberi kaktus berduri.
Kita sedih/kecewa tetapi ternyata kaktus berbunga indah.
Itulah jalan Tuhan: indah pada waktunya.

Saat rencana kita tidak terwujud, kita sering kecewa, bahkan beberapa orang mungkin malahan marah kepada Tuhan, serta mempertanyakan mengapa rencana yang indah dan baik ini tidak terwujud. Kita perlu menyadari bahwa rencana kita tidak sama dengan rencana Tuhan, dan jelas kita juga mengetahui bahwa rencana Tuhan jelas jauh luar biasa di atas rencana manusia.

Yang menjadi masalah apakah kita sanggup berserah dan mengikuti rencana Tuhan tersebut atau kita menjadi marah dan kecewa. Semua tergantung pada kita sendiri; kita yang menentukan. Bila kita kecewa dan marah pada Tuhan, jelas hal ini merupakan hal yang tidak tepat. Sebagai manusia kita dapat kecewa, tetapi sebentar saja, jangan terus menerus. Setelah itu hendaknya kita menyadari bahwa pasti Tuhan memiliki rencana terbaik untuk kita dan Dia melakukannya tepat dan indah pada waktunya.

Saat kita memohon kupu-kupu yang cantik dan indah kepada Tuhan, ternyata Dia memberikan ulat kepada kita. Saat kita sedih dan kecewa, ternyata kita baru sadar bahwa ulat itu sekarang sudah berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Itulah cara Tuhan mewujudkan rencana-Nya, yang mungkin tidak masuk logika manusia. Tugas kita hanyalah berserah pada rencana Tuhan, tetapi jelas bukan menyerah.

Sabtu, 25 September 2010

Penanganan Masalah [SKDAG629]

Masalah dapat Anda anggap sebagai suatu penghalang atau sebagai batu pijakan naik; Anda yang menentukan sendiri.

Masalah merupakan bagian dari kehidupan kita; tidak ada seorang pun yang dalam hidupnya tidak menghadapi masalah. Yang penting adalah bagaimana kita menangani dan memaknai masalah tersebut.

Banyak orang melihat masalah dari sudut pandang negatif; masalah merupakan penghalang untuk maju, hambatan untuk sukses, dan sesuatu yang merusak serta manyakitkan. Tetapi ada juga orang yang melihat masalah dari sudut pandang berbeda; masalah merupakan suatu ujian yang membuat kita belajar dan belajar lagi, sehingga pada akhirnya kita akan menikmati hasilnya, yaitu berhasil naik ke tingkat kehidupan yang lebih tinggi.

Jadi marilah kita melihat bahwa masalah itu bukan penghalang, tetapi merupakan batu pijakan untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Tanpa masalah maka kehidupan kita menjadi statis, karena tidak ada tantangan; jelas hal ini membuat kita terlena dalam zona nyaman, sehingga tidak ada lagi usaha atau inovasi baru yang kita lakukan. Masalah merupakan suatu tantangan atau ujian yang membuat kita berpikir, belajar, dan berusaha untuk menyelesaikannya, sehingga kita mencari cara baru dan melakukan inovasi serta perubahan. Jelas hal ini membuat kita menjadi lebih baik dan mengarah pada kemajuan.

Jumat, 24 September 2010

Jangan Marah, Tetap Setia [SKDAG186]

Semua yang dimulai dengan rasa marah akan berakhir dengan rasa malu (Benjamin Franklin).
Tuhan tidak memilih kita untuk menjadi sukses, melainkan setia (Ibu Teresa).

Manusia akan menjadi bodoh saat tidak dapat mengendalikan emosinya. Saat sedang marah, maka manusia tidak mengandalkan akal sehat lagi, tetapi hanya emosi. Tetapi setelah hal itu terjadi yang muncul hanyalah penyesalan, perasaan malu karena tindakan yang terlanjur telah dilakukan. Untuk mengantisipasi hal itu, maka kiranya sebelum mengumbar emosi, maka kita perlu antisipatif dengan berpikir ”nanti bagaimana”, bukan ”bagaimana nanti”. Prinsip ”nanti bagaimana” bersifat antisipatif, sehingga kita akan berpikir dua kali sebelum mengambil tindakan. Sedangkan prinsip ”nanti bagaimana” menunjukkan bahwa yang penting tindakan saya sekarang, dampaknya tidak usah dipikirkan, lihat nanti saja.

Manusia memang mengejar sukses dalam kehidupannya; banyak yang ingin menjadi kaya, naik pangkat, pendidikan yang tinggi, dan lain-lain. Tetapi Tuhan sendiri sebenarnya tidak memilih kita untuk sukses, sehingga tidak ada jaminan bila kita telah mengikuti Tuhan maka pasti kita akan sukses dan hidup berkelimpahan. Waktu kita mengikuti Tuhan yang penting adalah kesetiaan kita terhadap prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran-Nya. Kesetiaan inilah faktor terpenting bagi Tuhan, dan Dia menginginkan kita tetap setia kepada-Nya dalam segala hal, baik saat bahagia maupun saat menghadapi masalah.

Jadi marilah kita kejar sukses abadi dengan jalan tetap setia kepada Tuhan dan juga memperbaiki diri dengan jalan mengendalikan emosi, terutama tindakan yang kita lakukan saat sedang marah. Amin ...