Senin, 31 Mei 2010

Membuat Damai [SKDAG137]

Jalani hidup bermakna dengan mengasihi tanpa syarat, memberi tanpa mengharap, bersahabat sepenuh hati. Nikmati kasihNya dan bagikan pada sesama, sehingga damailah di bumi.

Setiap hari saat kita menonton berita di televisi, ternyata dimana-mana banyak terjadi kekerasan, mulai dari perang antar supporter, perkelahian mahasiswa, kerusuhan antar kampung, dan lain-lain. Kelihatannya tidak lagi ada kedamaian di Indonesia dan juga di seluruh dunia. Mengapa semua ini terjadi?

Padahal Tuhan sebenarnya menciptakan manusia agar dapat hidup bahagia dengan penuh kebahagiaan dan sukacita, tanpa ada penderitaan. Tetapi karena manusia berdosa, maka kini dunia dikuasai dosa atau maut; akibatnya tidak ada lagi citra Allah, yang penuh kasih, pada manusia ini, sehingga mereka menjadi egois, mengutamakan kedagingan dan saling menyakiti.

Karena itu setelah menikmati kasih dari Allah yang tiada batasnya, maka kini saatnya bagi kita untuk membagikan kasih itu kepada semua orang dengan tanpa syarat, tanpa pandang bulu, dan dalam segala bentuk. Membagikan kasih tidak hanya dalam bentuk memberikan bantuan materi, tetapi kita dapat juga dengan memberikan senyuman, sapaan, atau berbagai hal lainnya yang berguna bagi orang lain dan membuat mereka berbahagia. Nah ... mari kita lakukan sekarang juga!

Minggu, 30 Mei 2010

Membuat Perubahan [SKDAG574]

Jangan pernah berharap ada PERUBAHAN apalagi KEMAJUAN tanpa KEULETAN, KETEKUNAN, dan KESABARAN (Erich Watson).

Tidak akan ada perubahan bila aktivitas kita tidak pernah berubah, melakukan sesuatu dengan cara yang sama. Memang kita sering malas berubah, karena berada di ‘comfort zone’ (zone nyaman); saat kita menikmati kondisi nyaman, maka kita takut untuk berubah karena takut menderita, mengalami hal yang tidak enak, butuh kerja keras atau pengorbanan.

Lingkungan kita setiap saat mengalami perubahan, baik dari segi ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, politik, dan lain-lain. Agar kita dapat mengikuti perubahan tersebut, maka kita pun perlu berubah, karena bila tidak maka kita akan terlindas oleh perubahan tersebut.

Perubahan diri kita perlu dimulai oleh kita sendiri; memang untuk berubah itu tidak mudah, kita membutuhkan keuletan, ketekunan, dan kesabaran. Saat berubah berarti kita menghadapi hal yang baru, perlu belajar, berusaha, dan berjuang lagi. Hal ini semua merupakan tantangan yang harus dapat kita atasi. Bila kita cepat berputus asa, maka kita akan balik kembali ke hal yang lama, akibatnya ya … tidak terjadi perubahan.

Dengan usaha keras, bila perlu disertai keringat, air mata, bahkan darah, maka kita dapat berubah ke arah yang positif dan mengalami kemajuan. Nah … inilah hasil dari semua kerja keras kita itu. Tetapi kita perlu ingat bahwa perubahan terjadi terus menerus, karena itu kita pun perlu terus belajar dan berlatih, agar terus siap menghadapi perubahan tersebut.

Sabtu, 29 Mei 2010

Kesetaraan [SKDAG136]

Jika perempuan diciptakan dari kepala lelaki maka dia berada di atas lelaki. Jika dari kaki, maka ia berada di bawahnya, tetapi dari rusuk agar dapat dipeluk, dekat dengan tangan sehingga mudah dilindungi dan dekat dengan hati sehingga dapat dikasihi.

Allah tidak pernah membeda-bedakan manusia yang satu dengan manusia yang lain, bangsa yang satu dengan bangsa yang lain, yang baik dan yang buruk. Semua selalu dikasihi Tuhan dan diperlakukan secara sama; Dia menawarkan pertobatan kepada semua orang, Dia menyebarkan kasih kepada semua orang, baik yang baik maupun yang jahat. Contoh yang jelas: matahari tercipta untuk semua orang, Oksigen juga dapat dihirup semua orang secara gratis.

Saat menciptakan manusia pun, Allah tidak mengganggap laki-laki lebih tinggi daripada perempuan atau sebaliknya, tetapi keduanya perlu saling melengkapi. Keduanya memiliki hak dan kewajiban masing-masing; laki-laki tidak dapat menjalankan fungsi sebagai perempuan yang dapat hamil, sebaliknya perempuan pun tidak dapat menjadi laki-laki yang secara fisik lebih kuat. Jadi di dalam keluarga hendaknya suami dan istri dapat saling menghormati karena masing-masing memiliki fungsi tersendiri.

Perempuan perlu dilindungi, dan dikasihi laki-laki, di sisi lain laki-laki perlu didampingi perempuan untuk mengendalikan emosi dan membuat kedamaian. Itulah kesetaraan yang ideal, bukan harus sama rata secara menyeluruh!

Jumat, 28 Mei 2010

Menanggapi Penderitaan [SKDAG135]

Kamu tidak perlu marah atas penderitaan yang kamu hadapi, sebaliknya bersyukurlah karena penderitaan menimbulkan ketekunan dan kekurangan menguji kesetiaanmu.

Penderitaan yang kita alami memang tidak mengenakkan dan pada umumnya manusia mengatakan bahwa penderitaan membuat hidup kita tidak nyaman. Tuhan tidak merancangkan penderitaan bagi umat-Nya; penderitaan terjadi karena kesalahan diri sendiri, dunia, dan akibat kita terperosok ke dalam godaan setan.

Tetapi di sisi lain, dengan mengalami penderitaan maka kita mengerti akan maknanya kebahagiaan, pentingnya bersyukur, perlunya ketekunan, dan merasakan manfaatnya kesetiaan. Bila kita sadar, dan tidak mau menderita lagi, maka kita berusaha untuk berubah dan mengalami pertobatan ke arah yang lebih baik.

Ternyata memang di balik setiap peristiwa yang kita alami, Tuhan memberikan makna positif di baliknya. Jadi janganlah semua hal negatif dianggap merugikan; peristiwa itu sudah terjadi, jadi lihatlah dari sisi yang berbeda, yaitu dari sisi positifnya. Misalnya bila anak kita tidak naik kelas, maka lihatlah manfaatnya, misalnya hal tersebut menyadarkan bahwa kita sebagai orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan atau pelayanan sehingga keluarga sendiri tidak atau kurang diperhatikan.

Yang penting kita perlu bersyukur dalam segala hal, bersukacita dalam setiap keadaan, dan tidak lupa untuk berdoa. Dengan demikian kita dapat memaknai setiap peristiwa yang kita dari sisi yang positif.

Mengatur Beban [SKDAG573]

Beban membuat kita terlatih dan menjadi kuat. Tetapi beban berlebih saat kita belum siap dapat membuat kita hancur, karena itu selalulah berlatih dan belajar.

Tingkat stress ditentukan oleh seberapa besar dan seberapa lama beban yang kita tanggung; karena itu beban perlu dikendalikan agar sesuai dengan daya tahan yang kita miliki, tidak boleh berlebih, tetapi juga jangan terlalu ringan.

Seperti saat berlatih beban fisik, maka beban yang kita angkat perlu disesuaikan dengan kemampuan fisik kita. Bila kita hanya mampu mengangkat 20 kg, ya jangan dikasih beban yang 50 kg, karena kita akan memaksa otot kita dan akibatnya mungkin menjadi cidera. Tetapi jangan juga menggunakan beban 15 kg untuk mengangkatnya, karena otot kita sudah terbiasa melakukannya. Tingkatkanlah beban kita sedikit di atas kemampuan rata-rata, misalnya antara 22 sampai 25 kg, sehingga kita mampu mengangkatnya dan melatih otot kita agar menjadi lebih kuat lagi. Bila nanti sudah terbiasa, barulah kita tingkatkanlah beban tersebut, demikian seterusnya.

Hal yang sama perlu kita lakukan dengan beban kehidupan; janganlah safety player saya yang hanya mencari aman, tetapi kita membutuhkan tantangan yang moderat dan dapat kita atasi dengan berusaha maksimal. Jangan pasang target terlalu tinggi, karena hal tersebut tidak beda dengan berjudi yang menyebabkan kita dapat hancur. Buat target moderat, latih dan belajar untuk mencapainya; setelah tercapai baru kita tingkatkan lagi.

Selasa, 25 Mei 2010

Mengendalikan Pikiran [SKDAG572]

Lihat sekeliling, dengarkan suaranya, dan rasakan perasaan yang muncul. Lalu pikirkan apakah hal itu bermanfaat? Bila tidak, ubah atau buang semuanya. Bila ya, simpanlah! (DAG)

Manusia memiliki panca indra untuk menangkap semua data dan informasi dari sekeliling kita, melihat dengan mata, mendengar dengan telinga, merasakan dengan kulit, mengecap dengan lidah, dan mencium dengan hidung. Semuanya lalu diproses oleh otak atau pikiran kita, sehingga menghasilkan suatu respon tertentu. Jadi respon tersebut bukan hasil dari panca indra tetapi dari pikiran kita, karena itu pikiran harus kita kendalikan agar dapat memberikan respons positif yang bermanfaat bagi kita sekalian.

Bila kita mendapat masukan tentang kondisi yang menakutkan dan mengkuatirkan, maka kita dapat menyuruh otak kita untuk membuang semua itu. Gantikanlah informasi yang negatif dan tidak berguna dengan informasi lain yang bermanfaat demi pengembangan diri kita.

Tetapi informasi yang bermanfaat dan berguna serta menguatkan kita tentu saja perlu kita simpan, misalnya memori waktu anda lulus ujian, waktu menikah, atau waktu mendapatkan anak pertama. Agar memori tentang hal itu menjadi lebih kuat maka kita perlu mengingat kembali hal tersebut, memutar kembali filmnya dalam memori kita, mendengarkan suara-suara dan merasakan kebanggan yang muncul, serta memperbesar gambaran, pendengaran, dan perasaan tersebut.

Jadi pada saat pikiran kita lagi loyo, takut, atau kuatir, maka putar kembali film yang bermanfaat ini dalam memori anda, sehingga menggantikan kesan negatif sebelumnya. Jangan biarkan perasaan mengendalikan diri kita tetapi kitalah yang mengendalikan perasaan yang muncul dalam diri kita.

Senin, 24 Mei 2010

Perhatikan Hal Kecil [SKDAG571]

Manusia tidak tersandung oleh batu sebesar lemari, tetapi jatuh karena batu kerikil. Jadi untuk meraih sukses, perhatikan hal-hal kecil.

Sesuatu yang besar dan kelihatan jelas, membuat kita melakukan persiapan yang matang sebelum menghadapinya. Tetapi hal-hal kecil seringkali membuat kita lupa dan mengabaikannya, padahal hal ini lah yang dapat membuat kita jatuh.

Dalam bidang olahraga, bila kita menghadapi lawan yang lebih kuat maka jelas kita membuat persiapan yang matang agar dapat mengalahkannya. Bila menang kita membuat prestasi yang luar biasa, tetapi bila kalah pun orang lain akan memakluminya karena dia lebih kuat dari kita. Tetapi saat menghadapi lawan yang lebih lemah atau peringkatnya jauh di bawah, kita sering memandang sebelah mata dan mengabaikannya; hal inilah yang membuat kita kalah terhadap dia, sehingga orang lain mencela kita karena kalah dari lawan yang lebih lemah.

Untuk mengatasinya kita perlu memperhatikan semua faktor, tidak boleh ada yang dianggap remeh, dan melakukan persiapan semaksimal mungkin. Hal inilah yang menjadi kunci kesuksesan kita.

Di sisi lain, manusia juga sering jatuh karena melakukan dosa-dosa yang kecil, misalnya melakukan korupsi waktu atau membawa peralatan kantor ke rumah. Tetapi bila hal ini dilakukan terus meneru maka kita menjadi terbiasa, dan akan terjerumus untuk melakukan dosa yang lebih besar – apalagi si setan pun tak henti-hentinya memprovokasi diri kita. Karena itu jauhilah semua dosa, sekecil apa pun itu, dan kita perlu untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhan melalui doa dan membaca FirmanNya. Amin!