Selasa, 18 September 2012

Menyerah itu Gagal! [SKDAG905]


Kebanyakan orang gagal adalah orang yang tidak menyadari betapa dekatnya mereka ke titik sukses, saat mereka memutuskan untuk menyerah (Thomas Alfa Edison).

Suatu saat, ada seorang pencari harta karun menggali suatu tempat berpedoman pada sebuah peta kuno yang dimilikinya. Ia menggali terus selama berhari-hari, sampai akhirnya ia merasa lelah dan mengganggap bahwa peta kuno yang dimilikinya tersebut adalah pesta palsu. Karena itu lalu ia memutuskan untuk menyerah dan menghentikan penggaliannya. Dengan menyerah jelas penggali pertama ini telah gagal untuk mendapatkan harta karun tersebut.
Tidak berapa lama kemudiaan datanglah penggali kedua yang melanjutkan penggalian dari si penggali pertama. Ternyata baru satu hari ia menggali, ia sudah menemukan sekotak harta karun yang berisi penuh dengan emas permata. Mendengar hal tersebut, bagaimanakah perasaan penggali pertama? Pasti ia sangat kecewa dan menyesali perbuatannya untuk menghentikan penggalian; tetapi memang penyesalan selalu muncul terlambat.
Jadi agar tidak menyesal, maka hendaknya kita terus berusaha untuk mewujudkan impian atau tujuan kita, karena mungkin saja titik sukses sudah sangat dekat dengan kita. Saat kita ingin menyerah pun, kita perlu bertanya pada Tuhan apakah kehendak kita untuk menyerah itu sesuai dengan rencana-Nya?

Minggu, 09 September 2012


Mulai dari yang Perlu [SKDAG903]

Lakukanlah mulai dari yang perlu, lalu yang mungkin dan tiba-tiba Anda sudah dapat melakukan yang tidak mungkin (St. Fransiskus Asisi).

Manusia memiliki banyak keinginan dan cita-cita, tetapi bila semuanya ingin diraih, maka hasilnya tidak ada satu pun yang didapat, karena kita tidak fokus. Kerjakan yang satu sebentar, kemudian beralih ke pekerjaan yang kedua, akibatnya semuanya tidak memberikan hasil yang memuaskan.

St. Fransiskus Asisi mengajarkan kepada kita bagaimana kita perlu mengelola keinginan kita. Beliau mengatakan bahwa kita perlu konsentrasi melakukan hal-hal yang penting dan perlu kita lakukan, hindari pekerjaan-pekerjaan yang tidak perlu dan tidak memberikan hasil, misalnya chatting berlebihan dengan BB, FB atau Twitter. Setelah yang penting dan perlu dapat kita selesaikan, maka sekarang kita mulai beralih untuk melakukan tugas-tugas yang mungkin dan mampu kita lakukan. Kerjakan semuanya dengan baik dan sepenuh hati agar memberikan hasil yang memuaskan serta membuat kita pun menjadi terlatih.

Setelah terlatih, ternyata kita sendiri pun menikmati hasilnya, karena sekarang kemampuan dan ketrampilan kita meningkat. Saat itu pun kita sudah dapat melakukan tugas lainnya, yang pada awalnya kita nilai tidak mungkin dapat kita lakukan. Jadi marilah mulai melakukan yang perlu, lalu yang mampu dengan sepenuh hati, maka ternyata kita dapat melakukan tugas lain yang jauh lebih besar. Amin.

Rabu, 05 September 2012

Prinsip Bekerja [SKDAG902]


Dalam bekerja, temukanlah
1. kesederhanaan di tengah kerumitan
2. keselarasan di tengah perdebatan
3. kesempatan di tengah kesulitan
(Einstein)

Keberadaan kita di dunia ini hendaknya dapat memberi dampak positif atau masukan kepada orang lain atau lingkungan tempat kita berada. Demikian juga pada saat kita berfungsi sebagai kepala keluarga, karyawan, atau apa pun juga, hendaknya kita dapat menjadi terang di tengah kegelapan, menjadi air di tengah kekeringan, dan  lain-lain.

Einstein mengemukakan bahwa dalam bekerja hendaknya kita dapat menemukan kesederhanaan di tengah kerumitan, artinya kita dapat menyederhanakan berbagai proses yang terlalu rumit atau terlalu panjang, sehingga hal tersebut menjadi lebih efisien. Lalu kita juga dapat menemukan keselarasan di tengah perdebatan, artinya kita dapat menjadi pemersatu di antara berbagai ide atau alternatif solusi yang dikemukan oleh rekan-rekan sekerja kita, sehingga dapat memperoleh solusi yang efektif. Dan juga kita dapat menemukan kesempatan di tengah kesulitan yang kita temui dalam bekerja; kita dapat menjadi penyemangat agar rekan-rekan tetap mau berusaha menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam pekerjaan.
Dalam berbagai hal hendaknya dalam bekerja kita dapat menjadi pusat dari perubahan yang memberikan dampak postif  bagi lingkungan kita. Marilah kita berusaha untuk mewujudkan hal tersebut dengan bantuan Tuhan yang maha kuasa. Amin…

Kamis, 30 Agustus 2012

Perbudakan [SKDAG901]

Orang yang bekerja dengan fokus hanya mencari nafkah dan gaji telah menyerahkan dirinya pada perbudakan (Joseph Campbell).

Dalam hidup ini, kita perlu memiliki kegiatan, misalnya berolahraga dan bekerja. Berolahraga tentu saja agar tubuh kita menjadi sehat, agar olahraga menjadi kegiatan yang menyenangkan, maka ia tidak dapat dilakukan dengan terpaksa. Kita berolahraga dengan hati yang bergembira dan penuh suka cita; hal ini pun jelas membuat hidup kita menjadi sehat, tetapi bila kita berolahraga dengan terpaksa, maka hal tersebut membuat kita bosan dan tidak ingin melakukannya lagi. Bahkan mungkin bila ia dipaksa untuk berolahraga, maka sebenarnya kegiatan tersebut tidak lain dari suatu perbudakan.
Prinsip yang sama terjadi juga pada saat kita bekerja. Kalau kita melakukan pekerjaan sebagai suatu rutinitas, sehingga kita menjadi terpaksa, maka hal itu merupakan bentuk lain dari perbudakan bagi diri kita sendiri. Ada orang yang mencari kerja, dengan tujuan hanya untuk mencari uang, maka ia tidak memiliki sukacita dalam melakukan tugasnya. Hal ini membuat dia pun menjadi bosan dan melakukannya hanya karena terpaksa; nah … hal ini jelas kan merupakan suatu perbudakan.
Untuk itu marilah kita lakukan tugas atau pekerjaan kita dengan sepenuh hati, artinya kita memberikan yang terbaik dalam melakukannya dengan tujuan untuk memuaskan atasan dan pelanggan. Gunakan pikiran secara optimal agar dapat tercipta berbagai produk atau metoda yang inovatif dan berguna untuk rekan-rekan kerja, serta bermanfaat bagi pertumbuhan perusahaa. Do what you love and love what you do!

Senin, 27 Agustus 2012

Buat Hidup Bermakna … [SKDAG900]


Tanpa bekerja hidup akan membusuk, tetapi ketika kita bekerja tanpa menjiwainya, hidup akan terasa menyesakkan dan mati (Albert Camus)

Tuhan telah memberikan hidup kepada kita untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Pertama, hidup perlu kita hargai, artinya pelihara tubuh, jiwa, dan roh kita agar tetap sehat; jangan menyakiti atau membunuh tubuh sendiri ataupun tubuh orang lain. Kedua, buat hidup kita bertumbuh dan bermanfaat bagi diri sendiri dan juga bagi sesama, artinya kita perlu terus belajar dan berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Selain itu tubuh, jiwa, dan roh kita pun perlu diberi makanan yang sehat, misalnya makanan dan minuman fisik, berolahraga, hiburan atau refreshing, serta berdoa dan mendekatkan diri pada Tuhan.

Salah satu yang membuat hidup kita menjadi ‘hidup’ adalah dengan bekerja, karena hal ini membuat kita menjadi bermakna bagi orang lain. Tentu saja dalam hal ini bukan asal bekerja tetapi bekerja dengan sungguh-sungguh, dalam arti kata kita bekerja dengan sepenuh hati dan menjiwainya untuk memberikan hasil yang terbaik bagi perusahaan tempat kita bekerja, bagi diri sendiri dan sesama, serta tentu saja demi kemuliaan Tuhan.

Ingatlah bahwa kita perlu hidup, tetapi bukan asal hidup, melainkan hidup yang penuh makna. Amin …

Sabtu, 25 Agustus 2012

Menjadi Sempurna karena Sukacita [SKDAG899]

Sukacita dalam pekerjaan adalah kunci kesempurnaan pada karya (Aristoteles).

Bila melakukan sesuatu dengan penuh sukacita, maka semuanya akan terasa mudah dan ringan; saat mengerjakannya kita pun penuh dengan semangat tinggi untuk memberikan hasil yang terbaik. Tetapi sebaliknya bila kita melakukan sesuatu dengan terpaksa, maka hasil yang kita lakukan pun tidak terlalu baik, karena kita melakukannya tidak dengan sepenuh hati.

Persembahan yang terbaik / sempurna adalah tubuh kita, dalam arti kata semua tugas, pekerjaan, kegiatan sehari-hari kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh sukacita, karena semua hal tersebutlah yang akaan memberikan karya atau hasil terbaik. Dalam melakukan sesuatu janganlah dengan bersungut-sungut; bila hati Anda sedang galau berhentilah sejenak, datang ke hadirat Tuhan untuk berdoa dan mohon bimbingan-Nya untuk menenangkan hati kita. Niscaya dengan bersyukur atas segala sesuatu yang telah kita terima dan alami, maka kita pun dapat kembali melakukannya dengan semangat dan penuh sukacita.

Lakukanlah semua tugas, seperti kita melakukannya hanya untuk Tuhan, karena Dia yang sudah memberikan segalanya kepada kita. Amin.

Selasa, 21 Agustus 2012

Buanglah Sampah! [SKDAG898]


Jangan biarkan sampah hati seperti frustasi, kemarahan, kekecewaan, merusak suasana hati Anda karena hal tersebut akan menghambat kesuksesan Anda (DAG).


Hidup ini dapat dianalogikan sebagai suatu perjalanan untuk mencapai tujuan atau untuk mewujudkan visi kita. Dalam menempuh suatu perjalanan, tentu saja sebelumnya kita perlu menentukan tujuan atau sasaran, lalu membuat rencana perjalanan,  melaksanakannya, serta mengevaluasi setiap langkah yang telah dilakukan.


Agar perjalanan yang kita tempuh dapat berjalan dengan cepat, aman, dan nyaman, maka tentu saja sebelum berangkat kita perlu membersihkan sampah atau kotoran yang ada dalam kendaraan. Bila dibiarkan ada, maka sampah itu akan membusuk; akibatnya kita semua yang akan menjadi mabuk dan perjalanan menjadi terganggu. Demikian juga dalam hidup, agar perjalanan kita mencapai tujuan hidup dapat berjalan dengan lancar maka kita perlu meninggalkan sampah hati yang ada dalam pikiran dan hati kita, seperti kemarahan, frustasi, kekecewaan, dan lain-lain.

Sesudah membuang sampah hati tersebut, kita dapat segera mewujudkan tujuan hidup kita dengan lebih mudah dan lebih cepat.