Sabtu, 28 Januari 2012

Manfaatkan Tabunganmu … [SKDAG808]

Jika kamu tidak menggunakan senyumanmu, kamu seperti orang yang memiliki tabungan satu juta dollar, tetapi tidak mempunyai buku cek untuk mengambilnya (Les Giblin).

Apakah Anda mau berinvestasi yang memberikan hasil berlipat ganda? Tentu mau. Tetapi bagaimana bila investasi itu tidak dapat Anda ambil? Nah … tentu saja kita tidak mau, karena uang hasil investasi tersebut hanya ada di atas kertas saja tetapi tidak dapat kita manfaatkan, artinya investasi itu menjadi sia-sia saja.

Nah … ternyata kita pun memiliki banyak tabungan dalam diri kita, berupa bakat dan karunia yang diberikan Tuhan kepada kita. Ada yang memiliki suara bagus tetapi tidak mau bernyanyi untuk menghibur sesama di tempat ibadat, ada yang diberi kelimpahan harta tetapi hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi saja dan tidak peduli terhadap sesama, lalu ada juga yang memiliki banyak waktu, tetapi ia membiarkan waktu itu pergi begitu saja karena tidak dimanfaatkan dengan baik. Banyak tabungan kita tetapi tidak pernah kita manfaatkan, kalau begitu janganlah menyesal bila tabungan yang tidak berguna itu nanti akan diambil-Nya dan dialihkan ke orang lain yang dapat memanfaatkannya secara optimal.

Salah satu tabungan kita adalah kemampuan untuk tersenyum; manfaatkanlah senyum tersebut karena dengan hanya menggerakkan otot muka dan disekitar bibir, tetapi perlu disertai ketulusan hati, maka kita akan memberikan sukacita kepada sesama di sekitar kita. Mari gunakan senyum tersebut, karena hanya membutuhkan energi sedikit dan tidak membutuhkan biaya apa pun. Pikirkanlah saat kita tidak dapat tersenyum lagi saat sedang kesakitan atau saat kita menderita stroke sehingga mulut kita menjadi miring. Marilah kita tebarkan S1, yaitu senyum; malahan sebaiknya S2: senyum selalu, tetapi jangan S3: senyum selalu sendirian.

Kamis, 26 Januari 2012

Bersyukurlah … [SKDAG807]

Tanpa kepuasan, kita akan dirongrong kecemburuan, ketamakan, kekuatiran. Bukannya mengucap syukur, kita malah mengeluh.

Manusia seringkali mengeluh dan merasa tidak puas atas semua yang telah diperolehnya, misalnya bila hari ini kita makan dengan pecel, maka ada orang yang mengeluh “Mengapa cuma pecel?, mengapa bukan ayam goreng?”. Bila kita selalu merasa tidak puas, maka kita tidak akan damai; otak dan pikiran kita dipenuhi oleh iri hati, cemburu, ketamakan, dan juga kekuatiran.

Kita perlu bersyukur atas segala hal yang kita miliki dan kita alami, misalnya “Terimakasih Tuhan, saya boleh makan dengan pecal”, dan lihatlah ke sekeliling kita, ternyata masih banyak orang lain yang kelaparan dan belum makan sampai saat ini. Janganlah menganggap diri kita yang memiliki masalah terbesar atau yang paling menderita, karena di luar sana masih sangat banyak orang yang jauh lebih menderita atau memiliki masalah yang jauh lebih besar daripada yang kita alami.

Marilah kita melihat setiap kejadian dari sudut pandang positif, bukan dari kejelekan atau kesusahannya saja. Hal inilah yang membuat kita dapat mengucap syukur dalam segala hal yang kita alami. Misalnya saat penjualan perusahaan kita menurun, kita tidak perlu marah-marah dan mencari kambing hitam, tetapi marilah kita bersyukur “Tuhan dengan penjualan yang menurun ini, Engkau mengingatkan kepada kami untuk meningkatkan kualitas dan pelayanan kepada para pelanggan kami. Terimakasih Tuhan”.

Sudahkah Anda bersyukur atas semua berkat yang kita peroleh sepanjang hari ini?

Rabu, 25 Januari 2012

Fokus pada Tujuan [SKDAG806]

Raihlah bintang di langit meskipun untuk itu Anda harus berdiri di atas kaktus (Susan Longacre).

Sebelum melangkah hendaknya kita menentukan tujuan terlebih dahulu, karena tujuan merupakan sasaran akhir yang ingin kita wujudkan. Setelah tujuan kita tentukan, barulah kita membuat perencanaan yang matang untuk mencapai tujuan tersebut. Bila semuanya telah siap, maka laksanakanlah perencanaan tersebut dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang kita miliki.

Bila ternyata kenyataan tidak sesuai dengan perencanaan yang kita buat, maka kita perlu fleksibel untuk melakukan perencanaan ulang dengan sasaran utama adalah mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Janganlah cepat menyerah atas setiap hambatan yang kita jumpai, tetapi tetaplah berusaha dengan sepenuh hati untuk mengatasi hambatan dan mencapai tujuan.

Untuk mencapai tujuan, kita perlu mengorbankan sumber daya yang kita miliki, bahkan sampai menderita. Susan Longacre mengatakannya: “Untuk mencapai bintang di langit, bila perlu kita lakukan dengan berdiri di atas kaktus.”. Sanggup?

Bergeraklah! [SKDAG805]

Untuk keluar dari kesulitan, seseorang harus berjalan menembusnya. Jadi Ulah CIcing WAe (UCIWA) - jangan diam saja.

Kita tidak dapat mengubah diri dengan hanya berdiam diri; kita perlu untuk bergerak dan melakukan tindakan (action), jangan diam saja! Dengan berdiam, masalah tidak terselesaikan dan tujuan pun tidak akan tercapai.

Dalam melakukan tindakan, tentu saja kita tidak asal bergerak, karena melakukan tindakan tanpa persiapan tidak memberikan hasil yang optimal. Kita perlu menentukan tujuan, lalu membuat persiapan yang matang untuk mewujudkan tujuan tersebut; dalam persiapan kita perlu meningkatkan kualitas diri dan mengurangi kelemahan, yang dapat kita lakukan dengan terus belajar. Dan akhirnya barulah kita melakukan tindakan untuk mewujudkan rencana tersebut.

Pergerakan tidak dapat dilakukan hanya dengan bicara saja, jadi jangan NATO (No Action Talk Only) atau omdo (omong doang). Ada juga istilah lain yang mendorong kita untuk bergerak, yaitu UCIWA (Ulah Cicing WAe), yang berasal dari bahasa Sunda dan berarti “jangan diam saja”. Jadi marilah sekarang kita bergerak, take action now!

Minggu, 22 Januari 2012

Berbuatbaiklah Senantiasa! [SKDAG804]

Kerjakanlah semua hal baik yang dapat Anda lakukan, kepada semua orang yang dapat Anda jangkau, dengan segala milik Anda, pada setiap waktu dan tempat.

Dimana, kapan, dan kepada siapakah kita berbuat baik? Jawabannya adalah dimana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja; seperti iklan salah satu minuman cola yang sangat terkenal di seluruh dunia. Dalam berbuat baik hendaknya kita pun melakukannya secara total, dengan segala milik kita, baik tenaga, waktu, pikiran, maupun harta kita.

Memang tidak mudah untuk berbuat baik seperti demikian, tetapi mintalah bantuan Tuhan, maka Ia yang akan memampukan kita untuk melakukannya. Misalnya bila kita mau berbuat baik pada semua orang, maka bagaimana dengan musuh kita. Dalam hal ini pun kita perlu untuk berbuat baik kepadanya; marilah kita belajar untuk mengasihi musuh kita. Mana yang lebih penting musuh atau sahabat? Jelas sahabat, bahkan ada pepatah yang menyatakan bahwa “memiliki satu musuh pun sudah terlalu banyak”, jadi marilah kita ubah musuh menjadi sahabat dengan berbuat baik kepadanya.

Salah satu teladan dalam melakukan perbuatan baik adalah ibu Teresa. Sebagai orang Albania yang beragama Katolik, beliau melayani di India yang mayoritas beragama Hindu. Dalam melaksanakan tugasnya, beliau melakukannya dengan tulus tanpa memandang suku bangsa, agama, dan juga bukan untuk mencari popularitas atau kekayaan. Dalam melaksanakan tugasnya, Ibu Teresa mengibaratkan bahwa ia hanyalah sebatang pensil yang berada di tangan Tuhan, yang menuliskan surat cinta untuk umat-Nya.

Bila kita melihat hubungan kita dengan Tuhan, maka siapakah yang terlebih dulu berbuat baik, manusia atau Tuhan? Jelas Tuhan; Dia mengasihi kita selagi kita masih berdosa. Dia memberikan hujan kepada semua orang, orang baik maupun orang jahat; Dia juga memberikan matahari, Oksigen dan lain-lain kepada semua orang. Kita sudah menerima banyak kebaikan dari Tuhan, karena itu sekaranglah saatnya untuk membalas kebaikan-Nya dengan berbuat baik kepada sesama yang ada di sekeliling kita sebagai wujud dari rasa syukur dan terimakasih kita kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

Kamis, 19 Januari 2012

Perkembangan Alami [SKDAG803]

Jika sebuah telur dipecahkan kekuatan dari luar, maka kehidupan di dalam telur akan berakhir, tetapi jika telur dipecahkan kekuatan dari dalam, maka kehidupan baru telah lahir.

Semua kejadian di dunia membutuhkan proses tertentu yang terjadi secara alami, dan semuanya berlangsung dalam waktu tertentu. Misalnya untuk melahirkan bayi, seorang ibu membutuhkan waktu selama sembilan bulan untuk mengandungnya; bila bayi itu lahir sebelum waktunya (prematur), maka dibutuhkan penanganan khusus. Jadi semua membutuhkan waktu tertentu, tidak dapat dipercepat atau diperlambat;biarkan semua berlangsung secara alami maka hasil terbaiklah yang kita dapatkan.

Ternyata banyak proses di dunia yang telah direkayasa manusia dengan menggunakan akal budinya agar mendapatkan hasil yang lebih baik dalam waktu yang lebih singkat. Dalam berbagai teknologi yang dikembangkan manusia memang perlu ditingkatkan sehingga menjadi lebih baik, tetapi proses alam yang diciptakan Tuhan telah sempurna, berlangsung dalam waktu yang tepat. Bila manusia merekayasa hal ini maka yang terjadi adalah bukan menjadi lebih baik tetapi menjadi lebih buruk, bahkan mungkin merusak keseimbangan alam yang terjadi. Misalnya saat manusia membunuhi atau menangkap ular maka tikus merajalela, karena tikus dapat berkembangbiak dengan cepat, sedangkan predatornya, ular, tidak banyak lagi.

Jadi marilah kita biarkan proses alami terjadi sesuai waktu dan rencana Tuhan, misalnya orang tua juga tidak perlu memaksa anak balitanya untuk segera dapat membaca, menulis, bahkan berhitung, padahal usia saat itu adalah saat bermain. Biarkanlah anak-anak pun berkembang secara alami sesuai dengan bakat dan karunia masing-masing; orang tua memang wajib mengarahkan tetapi bukan memaksakan kehendaknya.

Minggu, 15 Januari 2012

Nilai Manusia [SKDAG802]

Nilai manusia terletak pada apa yang diciptakannya, bukan pada jumlah milik yang dikumpulkannya (Kahlil Gibran).

Manusia tidak dinilai dari kekayaan yang dimilikinya; kekayaan hanyalah salah satu ukuran dunia dan kita perlu ingat juga bahwa kekayaan itu sebenarnya milik Tuhan yang dititipkan kepada kita, dan Dia dapat mengambilnya kembali. Memiliki kekayaan memang tidak salah, karena tanpa itu kita pun tidak dapat hidup dengan layak dan tidak dapat membantu sesama yang membutuhkan. Tetapi merupakan suatu kesalahan besar bila kita mengutamakan kekayaan di atas segalanya, karena bila demikian berarti kita : “Hidup untuk kaya”, artinya yang lain bukanlah prioritas hidup kita.

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan apa? Kekayaan, bila digunakan untuk membantu sesama, merupakan sesuatu yang baik juga, tetapi akan lebih berarti lagi bila kita dapat meninggalkan sesuatu yang bermanfaat dan dikenang terus oleh masyarakat. Misalnya seluruh manusia mengenang jasa baik Thomas Alpha Edison yang telah menemukan lampu pijar, Wright bersaudara yang menemukan pesawat terbang, pak Mujair yang menemukan ikan Mujair, dan masih banyak yang lainnya.

Hidup manusia itu singkat, hanya sekitar 70 tahun dengan usia produktif sekitar 30 tahun, karena itu marilah manfaatkan hidup kita ini agar dapat memberikan sesuatu yang berguna bagi anak cucu kita. Setuju? Ayo mari kita mulai berkarya sekarang, mulai dari keluarga kita sendiri baru kemudian melauas ke ruang lingkup yang lebih besar; jangan tunda lagi.