Senin, 25 Juli 2011

Nafsu Besar Tenaga Kurang [SKDAG321]

Jika orang hidup dengan cara hidup yang melebihi kemampuannya, maka ia akan lebih mudah membuat kesalahan yang sama. Ini namanya Nafsu Besar Tenaga Kurang.

Kemampuan dan daya tahan yang kita miliki pasti ada batasnya, oleh karena itu cara hidup kita perlu menyesuaikan diri dengannya. Misalnya seorang lulusan S1 yang biasa-biasa saja hampir dipastikan tidak mungkin untuk mendapatkan gaji sekitar Rp. 20 juta per bulan saat pertama kali bekerja. Demikian juga dengan seseorang yang setiap hari mampu berlari 5 km, maka ia tidak mungkin meningkatkan menjadi 10 km dalam waktu singkat. Ke dua contoh di atas menggambarkan bahwa mereka memiliki nafsu atau semangat yang besar, tetapi tenaganya kurang.

Kemampuan akan meningkat bila kita mau terus berlatih meningkatkan diri. Hal ini memungkinkan kita untuk meningkatkan cara hidup kita sehingga menjadi lebih baik. Tentu saja dalam hal ini kita perlu melakukannya secara konsisten, dan biasanya membutuhkan waktu, tidak terjadi secara instant.

Di sisi lain, cukup berbahaya juga bila kita memiliki tenaga atau kemampuan yang besar, tetapi tidak memiliki semangat atau nafsu; akibatnya semua kemampuan yang ada menjadi hilang percuma. Yang ideal adalah keseimbangan antara kemampuan dengan semangat; sehingga dapat dikatakan “Nafsu Besar Tenaga Memadai”.

Minggu, 24 Juli 2011

Sesuaikan dengan Situasi! [SKDAG748]

Sesuaikan diri kita dengan situasi. Jangan mengharapkan situasi yang berubah dan menyesuaikan diri dengan harapan kita (James Gwee).

Dalam melaksanakan berbagai hal, banyak faktor yang mempengaruhi, ada yang controllable tetapi ada juga yang uncontrollable. Faktor-faktor internal pada umumnya dapat dikendalikan, karena itu faktor-faktor ini perlu segera ditangani. Faktor-faktor eksternal pada umumnya di luar kendali kita, karena itu faktor-faktor ini perlu diantisipasi dan segera di-respon sebaik mungkin.

Situasi merupakan faktor eksternal yang tidak dapat kita kendalikan; jadi jangan mengharapkan situasi berubah dan menyesuaikan diri dengan harapan kita. Yang perlu kita tangani adalah diri kita sendiri agar dapat menghadapi berbagai situasi yang mungkin terjadi; untuk itu kita perlu terus belajar untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan. Tujuannya adalah agar kita dapat segera menyesuaikan diri dengan situasi yang ada.

Sabtu, 23 Juli 2011

Senyum, Syukur, dan Cinta [SKDAG320]

Tiga anugrah Tuhan pada kita adalah SENYUM, SYUKUR, dan CINTA.
Berikan SENYUM pada yang terluka, berSYUKUR untuk apa pun yang kita hadapi, dan gunakan CINTA untuk menjalani hidup.

Tuhan telah memberikan kepada kita berbagai anugrah, tiga diantaranya adalah Senyum, Syukur, dan Cinta, yang akan kita bahas pada inspirasi kali ini. Senyum merupakan suatu lengkungan yang penuh berkat; dengan tersenyum maka berkat Tuhan dapat kita tampung . Sedangkan bila kita cemberut, maka berkat Tuhan akan meleleh ke samping kiri dan kanan . Dengan membagikan senyum secara gratis, maka kita dapat membina relasi luar biasa dengan orang lain; senyum dapat menyembuhkan luka, membina relasi, dan menjalin komunikasi secara luar biasa.

Kemudian kita juga perlu bersyukur dalam segala hal, atas semua yang telah kita terima dan kita hadapi, pada saat suka dan juga pada saat duka. Semua perlu kita lakukan karena kita percaya bahwa Tuhan tidak pernah memberikan rancangan kecelakaan atau duka cita untuk kita, tetapi rancangannya akan terjadi secara indah dan tepat pada waktunya. Tugas kita adalah untuk selalu percaya, berpegang padaNya, dan terus berusaha dalam nama Tuhan.

Untuk menjalani hidup ini kita perlu cinta atau kasih, yang akan membuat hidup kita menjadi indah dan berarti. Kita perlu mulai dengan mengasihi diri sendiri, karena tanpa ini kita tidak mungkin mengasihi orang lain. Setelah dapat menghargai diri sendiri, maka luaskanlah dengan mengasihi sesama, tanpa peduli siapa pun dia; kita perlu mengasihi saudara, teman dan sahabat, serta juga mengasihi musuh-musuh kita serta mendoakan mereka semua. Lalu tentu saja kita tidak boleh lupa untuk mencintai Tuhan yang telah menciptakan kita, serta mencintai seluruh ciptaaan-Nya: alam semesta beserta seluruh isinya.

Marilah kita gunakan ketiga anugrah Tuhan yang istimewa ini dalam kehidupan kita. Tebarkan senyum, selalu bersyukur, dan bertindaklah atas dasar cinta kasih. Semua hal tersebut membuat kita menjadi manusia baru yang luar biasa, dan dampaknya tentu saja untuk mengubh dunia menjadi lebih baik.

Jumat, 22 Juli 2011

Arti “Cukup” [SKDAG747]

Kata 'cukup' paling sulit diucapkan karena manusia selalu merasa kurang dan tidak pernah puas dengan berbagai hal yang dimiliki/diterimanya.

Banyak manusia yang bila telah mencapai atau memiliki A, maka ia ingin segera mencapai atau memiliki B, lalu ingin mencapai atau memiliki C dan seterusnya. Bila hal ini terjadi terus menerus, maka ia merupakan manusia yang tidak pernah puas. Semua dirasakan “kurang” dan ia mau lebih dan lebih lagi.

Di satu sisi mungkin hal seperti di atas dapat diterima, yaitu dalam hal tidak puas untuk terus belajar, terus berbuat baik, dan terus meningkatkan kepribadian. Jadi untuk hal positif marilah kita terus raih dan jangan cepat puas.

Tetapi untuk hal duniawi, hendaknya kita berani dan mampu untuk mengatakan “cukup”. “Cukup” dalam hal ini bukan berarti kita tidak mau menerima lagi, tetapi mensyukuri semua yang telah kita terima dan kita menikmati semua yang telah kita peroleh tersebut. Kalau kita sudah memiliki harta yang berkelimpahan, maka gunakanlah untuk berbuat baik, misalnya menolong sesama yang sangat membutuhkannya.

Seperti aliran sungai, dengan memberikan harta milik kita, maka akan terjadi aliran masuk yang akan mengembalikan harta milik kita. Jadi marilah kita berani untuk mengatakan “cukup” terhadap segala sesuatu sehingga kita tidak menjadi manusia yang serakah dan rakus.

Senin, 18 Juli 2011

Percayalah bahwa Anda Hebat! [SKDAG746]

Kita menjadi kuat bila kita percaya, tetapi kita menjadi lemah bila kita ragu. Dengan keyakinan kuat, kita dapat melahirkan tindakan-tindakan hebat (J.F.Clarke).

Konsep diri yang tertanam dalam diri kita sejak kecil, membentuk dan mempengaruhi keberadaan diri kita seperti sekarang ini. Bila Anda berpikir bahwa Anda bodoh, maka benar terbukti bahwa memang Anda bodoh. Bila Anda berpikir bahwa Anda adalah orang hebat, maka memang benar bahwa Anda dapat membuat berbagai prestasi yang luar biasa.

Untuk itu, marilah kita tinggalkan konsep diri yang negatif dan ubah agar kita memiliki konsep diri yang positif. J. F. Clarke menyatakan bahwa bila kita percaya maka kita menjadi kuat, sedangkan bila kita ragu maka kita menjadi lemah. Percayalah atas kemampuan diri kita sendiri, maka kita dapat melakukan segala sesuatu yang kita inginkan, tentu saja dengan kehendak Tuhan yang maha kuasa. Tetapi sebelum itu jelas kita perlu memiliki persiapan yang matang, misalnya dengan terus belajar dan melakukan berbagai hal dengan penuh semangat dan memiliki tujuan yang pasti. Selain itu kita perlu yakin bahwa semua manusia adalah genus, karena kita adalah ciptaan Tuhan yang terbaik.

Dengan persiapan yang matang dan kepercayaan atau keyakinan yang kuat maka percayalah kita dapat mewujudkan berbagai hal yang luar biasa. Integrasikanlah keyakinan, pikiran, kemampuan, dan iman, maka kita siap untuk memetik buah yang luar biasa. Semoga … dan pasti!

Minggu, 17 Juli 2011

Bersaing untuk Lebih Dicintai [SKDAG315]

Hidup semakin ketat, karena itu kita harus mampu bersaing. Marilah kita bersaing untuk menjadi siapa yang lebih dicintai, bukan siapa yang lebih hebat atau lebih ditakuti.

Dalam dunia sehari-hari, istilah persaingan lebih berkonotasi negatif, karena dalam persaingan akan terjadi sikut menyikut, saling jegal, suap, dan lain-lain. Memang dalam persaingan kita mencari pemenang, sehingga seringkali dihalalkan segala cara. Untuk menjadi pemenang seringkali kita malah mengorbankan orang lain yang menjadi lawan kita. Semua terjadi karena kita ingin menjadi yang paling hebat atau paling ditakuti.

Sebenarnya banyak juga persaingan yang positif, misalnya bagaimana para murid bersaing untuk menjadi yang terbaik di kelas. Dalam hal ini mereka berusaha semaksimal mungkin untuk terus meningkatkan kemampuan diri masing-masing, tanpa harus perlu menjatuhkan murid lainnya. Jadi untuk memenangkan persaingan yang terpenting adalah bagaimana meningkatkan prestasi kita sendiri bukan bagaimana menjatuhkan pesaing.

Tetapi ada hal lain lagi yang lebih positif, yaitu bagaimana kita bersaing untuk menjadi orang yang paling dicintai. Jelas dalam hal ini kita bersaing untuk menjadi orang yang tidak hanya memiliki prestasi luar biasa dalam bidang tertentu, tetapi juga memiliki prilaku yang baik, memiliki kasih, sportif, dan mau memperhatikan orang lain.

Marilah kita memenangkan persaingan secara sportif dan positif, miliki prestasi terbaik dan juga prilaku yang menarik. Jadilah juara sejati!

Jumat, 15 Juli 2011

Kebahagiaan dan Penderitaan [SKDAG745]

Semua kebahagiaan di dunia berasal dari keinginan untuk membahagiakan pihak lain. Semua penderitaan di dunia berasal dari keinginan untuk membahagiakan diri sendiri (Shantideva).

Kebahagiaan dan kekecewaan atau penderitaan sebenarnya hanya berbeda tipis. Mari kita simak cerita berikut. Seorang janda yang ditemani satu anak laki-laki remaja merasa berbahagia karena ia dapat menghidupi keluarganya dengan memanfaatkan seekor kuda miliknya. Suatu hari, karena mereka tinggal di tepi hutan, kuda tersebut hilang, lari ke dalam hutan; hal ini tentu menyebabkan si ibu menjadi kecewa karena ia mengkuatirkan kehidupan keluarganya. Tetapi beberapa hari kemudian, pagi-pagi sekali si ibu mendengar suara ringkikan kudanya dan saat ia keluar, ternyata si kuda sekarang membawa pasangannya, seekor kuda liar dari hutan. Sekarang si ibu bersyukur dan merasa berbahagia karena terbayang bahwa penghasilannya akan meningkat dengan memiliki dua ekor kuda.

Tetapi cerita masih berlanjut, anak si ibu mengajari kuda liar agar dapat dikendalikannya, tetapi sunggu naas si anak terpelanting sehingga kakinya patah. Sekarang si ibu kembali kecewa karena percuma saja memiliki dua ekor kuda bila anaknya tidak dapat bekerja.
Karena negara itu sedang dilanda perang, maka semua anak muda di desa itu pun wajib untuk membela negara. Sekarang si ibu kembali bersyukur dan berbahagia karena anaknya, yang sedang patah kaki, terbebas dari kewajiban tersebut. Jadi kecewa atau penderitaan dan bahagia datang silih berganti dalam hidup kita. Tetapi yang jelas rencana Tuhan selalu indah dan terjadi tepat pada waktunya.

Bila kita dengan tulus ingin membahagiakan orang lain, maka seluruh dunia pasti bahagia. Tetapi bila kita semua menjadi manusia egois yang hanya mencintai diri sendiri atau golongannya sendiri, maka yang terjadi adalah penderitaan bagi dunia. Nah … keputusan ada di tangan kita; mana yang Anda pilih? Saya harap kita semua memiliki keinginan dan tujuan untuk membahagiakan orang lain. Amin ….