Selasa, 07 Desember 2010

Manfaat Buku [SKDAG658]

Buku merupakan teman yang paling tenang dan setia, paling mudah dimiliki, paling bijaksana dan guru yang paling sabar (Charles W. Eliot).

Dalam hidup, kita hanya perlu “menang” atau “belajar”: bila belum menang berarti kita perlu terus belajar. Banyak sumber untuk kita belajar; secara resmi kita belajar di bangku sekolah atau kuliah, tetapi secara tidak resmi banyak tempat untuk kita belajar, yaitu dari masyarakat dan lingkungan tempat kita berada, dari orang lain yang lebih pakar dan berpengalaman, serta melalui berbagai sumber lainnya seperti buku, surat kabar, televisi, jaringan internet dan lain-lain.

Buku merupakan sumber belajar yang unik, karena ia merupakan guru yang paling tenang dan setia; siap mengajar kita saat dibutuhkan dan setia menanti saat kita memiliki kesibukan lain. Buku juga mudah dimiliki sehingga banyak orang dapat belajar bersama-sama darinya. Selain itu buku juga merupakan guru yang paling bijaksana dan paling sabar; ia tidak pernah marah pada saat kita malas membacanya atau melewati materi yang tidak penting atau sudah kita ketahui.

Kitalah sebagai pembaca yang perlu mengendalikan buku dengan baik. Membaca buku tidak perlu dari depan sampai belakang, tetapi setelah melihat daftar isi dan halaman-halaman buku secara cepat, maka kita telah mendapat gambaran mengenai isi buku tersebut. Berbagai hal yang ingin kita ketahui dan perdalam, silahkan kita buka dan baca dengan seksama, sedangkan bagian lain yang kita nilai tidak perlu dapat dilewati atau dilihat sekilas saja. Kitalah yang menentukan bagian mana yang perlu atau tidak untuk dibaca; jangan takut untuk melakukan hal ini.

Karena buku merupakan guru yang baik, maka jangan ragu juga untuk membagikannya kepada orang lain yang membutuhkan untuk belajar. Jadikan buku sebagai hadiah untuk teman-teman kita saat dia ulang tahun, sumbangkan juga buku yang sudah kita baca ke perpustakaan umum atau perpustakaan sekolah yang masih banyak membutuhkan bahan bacaan.

Senin, 06 Desember 2010

Pikiran Membentuk Diri Kita [SKDAG222]

Pikiran masa lalu menghasilkan pengalaman sekarang, pikiran sekarang menjadi pengalaman masa yang akan datang. Jadi kendalikanlah cara berpikirmu sekarang, agar mendapat pengalaman yang bermanfaat.

Semua yang kita pikirkan, pada umumnya secara sadar atau tidak sadar, terungkap dalam perkataan yang kita ucapkan dan perbuatan yang kita lakukan. Perkataan dan perbuatan ini memberikan dampak bagi kehidupan kita mendatang, sehingga menjadi suatu pengalaman yang berharga.

Pikiran kita pada masa lalu, telah terwujudkan dalam perkataan dan perbuatan kita, dan menghasilkan pengalaman, baik yang positif maupun negatif, yang membentuk diri kita sekarang ini. Demikian juga dengan pikiran kita pada masa sekarang akan membentuk diri kita pada masa mendatang. Karena itu pikiran kita perlu dikendalikan dan diisi dengan berbagai hal positif, agar menghasilkan pengalaman positif dan bermanfaat sehingga membentuk diri kita yang lebih baik pada masa mendatang.

Pengalaman merupakan guru yang baik, kita perlu mengevaluasi pengalaman positif dan merekayasa pikiran kita agar menghasilkan pengalaman positif lain yang lebih dahsyat. Sedangkan pengalaman negatif, kita cari pikiran yang menyebabkannya, dan kemudian jangan mengulangi lagi cara berpikir seperti itu.

Minggu, 05 Desember 2010

Syukur [SKDAG657]

Syukur membuat hidup kita bahagia, karena ia memberikan Sukacita – Yakin – Usia lanjut – Kasih – Unggul – Ramah (D. Agus Goenawan).

Bersyukurlah dalam segala hal, bukan hanya pada saat suka atau bahagia tetapi juga saat duka atau sedang menghadapi masalah. Pada saat suka kita mudah untuk bersyukur, tetapi pada saat duka, bagaimana kita dapat bersyukur? Agar dapat bersyukur, maka kita perlu melihat manfaat atau hal positif dari setiap peristiwa yang kita alami. Misalnya saat kita mengalami kecelakaan dan mengalami patah kaki, maka banyak orang yang masih dapat mengatakan “Untung hanya kakinya saja yang patah, bagaimana kalau langsung meninggal?”, atau kita dapat juga bersyukur karena dengan mengalami patah kaki, maka kita dapat berjumpa dengan teman dan saudara, karena mereka datang menjenguk kita yang sedang sakit.

Dengan bersyukur maka kita pun menyadari berbagai kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri kita, sehingga kita menjadi rendah hati. Selain banyak juga hal positif yang dapat kita peroleh bila kita selalu bersyukur.

Syukur membuat kita mengalami Sukacita, memiliki keYakinan, mencapai Usia lanjut, memiliki Kasih, membentuk menjadi manusia Unggul, dan memiliki ke-Ramah-an. Sukacita kita peroleh karena dengan bersyukur kita dapat melihat hal positif di balik segala peristiwa. Bersyukur membuat kita menyadari bahwa Allah mengasihi kita, sehingga kita memiliki keyakinan untuk terus menghadapi hidup mendatang. Sukacita dan keyakinan ini membuat kita hidup tenang sehingga (mudah-mudahan) dapat mencapai usia lanjut, memiliki kasih kepada Allah dan sesama.

Dengan mau belajar dari setiap peristiwa yang kita alami, maka hal ini membentuk diri kita menjadi manusia unggul yang tahan banting. Syukur juga membuat kita dapat menguasai emosi, sehingga kita dapat tetap ramah kepada semua orang. Marilah kita selalu bersyukur atas setiap peristiwa yang kita alami ….

Sabtu, 04 Desember 2010

Memberi itu Menyenangkan [SKDAG221]

Ingatlah tidak ada orang yang dipuji karena ia DIBERI sesuatu, tetapi orang dipuji karena MEMBERIKAN sesuatu. Jadi belajarlah memberi karena memberi itu menyenangkan.

“Lebih baik memberi daripada menerima” merupakan prinsip yang sering kita dengar, tetapi pada kenyataannya lebih banyak orang yang hanya mau menerima, tetapi segan bahkan tidak mau untuk memberi. Saat kita memberi sebenarnya terdapat minimal tiga hal positif yang telah kita lakukan, yaitu:
1. Bersyukur pada Tuhan, karena kita memiliki sesuatu yang dapat diberikan kepada orang lain.
2. Berterimakasih pada diri sendiri karena memiliki hati yang mengasihi untuk menolong orang lain.
3. Membantu orang lain dengan penuh ketulusan.

Jadi memberi itu memang suatu perbuatan yang menyenangkan bagi Tuhan, bagi diri sendiri, dan tentu saja bagi orang yang menerima pemberian kita. Karena itu untuk mensyukuri semua rahmat dan anugrah dari Tuhan maka marilah kita belajar memberi kepada semua pihak yang membutuhkan, baik berupa bantuan fisik, uang, ataupun berupa ide dan pemikira, termasuk juga memberi kasih dan pengampunan.

Kasih dan ketulusan membuat pemberian yang kita lakukan menjadi lebih berarti, karena setelah memberi kita tidak mengharapkan apa pun, termasuk juga pujian. Tentu saja bila ada yang memuji kita perlu mensyukuri semua hal tersebut kepada Tuhan.

Memang benar orang yang menerima jarang menerima pujian, sedangkan yang memberi sering menerima pujian. Saat kita menerima penghargaan maka kita pun jelas menerima pujian, tetapi perlu diingat kita menerima karena sebelumnya kita telah memberikan sesuatu yang berharga. Misalnya para atlet yang telah mempersembahkan medali kepada Indonesia mendapatkan penghargaan dari pemerintah karena telah mengharumkan negara kita.

Untuk itu marilah kita belajar memberi dari sekarang sebelum terlambat. Memberi doa (mendoakan) lebih baik daripada didoakan (menerima doa) kan?

Jumat, 03 Desember 2010

Memaknai Hidup [SKDAG656]


Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan.
Hidup untuk memberi bantuan, bukan hidup dari bantuan yang kita berikan (DAG).


Untuk hidup kita membutuhkan berbagai faktor pendukung, tetapi seringkali kita terlena untuk mengejar berbagai faktor pendukung tersebut dan melupakan tujuan utama dari hidup kita. Misalnya agar dapat hidup, memang kita butuh dan perlu makan; jadi kita makan untuk hidup, tetapi bukan hidup untuk makan, yang berarti semua kegiatan hidup kita digunakan hanya untuk mencari makan (yang enak).

Selain itu untuk hidup, kita juga butuh sehat; sehat untuk hidup, tetapi bukan hidup untuk sehat. Bila hidup untuk sehat, maka tujuan utama kehidupan adalah mencari dan menjaga kesehatan, sehingga pada saat kita sakit, maka dengan segala cara kita mencari kesehatan, misalnya dengan mendatangi berbagai dukun dan tempat keramat, serta tentu saja mengabaikan perintah-perintah Tuhan.

Jadi dalam menjalani kehidupan ini kita perlu menentukan dulu tujuan dari hidup kita masing-masing. Tujuan tersebut merupakan fokus yang perlu kita wujudkan dan lakukan dalam tindakan kita sehari-hari. Misalnya tujuan hidup kita adalah berguna bagi sesama, artinya kita siap untuk selalu memberi bantuan kepada sesama yang membutuhkan dengan ikhlas dan tidak memiliki pamrih apa pun atas semua bantuan yang kita berikan. Jadi hidup untuk memberi bantuan bukan hidup dari bantuan yang kita berikan.

Kamis, 02 Desember 2010

Belajar dari Kesalahan [SKDAG220]

Salah satu ciri kesuksesan adalah mengambil manfaat dari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, dan mencoba kembali dengan cara yang berbeda.

Banyak orang mengatakan bahwa kegagalan adalah sukses yang tertunda. Hal ini benar bila orang yang gagal tersebut mau belajar dari pengalamannya lalu mencari cara lain untuk mencapai keberahasilannya, tetapi bila ia tetap melakukan dengan cara yang sama tanpa perubahan sama sekali, maka ia hanya akan mengulangi kegagalannya.

Berbuat kesalahan itu manusiawi dan lumrah, tetapi bila melakukan hal salah berulang-ulang itu berarti ia hanya memiliki otak murahan. Setiap kesalahan yang telah kita perbuat, janganlah diulangi lagi; kita pelajari kesalahan yang terjadi, bagaimana menghindarinya, lalu mencoba kembali dengan cara yang berbeda. Dengan mengambil manfaat dari setiap kesalahan, maka kita akan meraih keberhasilan.

Marilah kita belajar dari Thomas Alva Edison (lihat foto di atas), penemu lampu pijar yang terkenal dan juga pemilik dari 1093 hak paten atas berbagai temuannya. Beliau mengatakan bahwa untuk membuat lampu pijar ia tidak langsung berhasil, tetapi terus melakukan berbagai percobaan dan belajar dari setiap kesalahan yang dia lakukan. Waktu seorang wartawan mengatakan “Kalau begitu, Anda ratusan kali mengalamai kegagalan ya”, Edison menjawab “Anda salah, saya tidak mengalami kegagalan, tetapi saya mengetahui cara yang salah untuk membuat lampu pijar, dan saya tidak mengulanginya kembali’.

Belajarlah dari kesalahan dan lakukan perubahan serta tindakan perbaikan untuk meraih kesuksesan. Amin …

Rabu, 01 Desember 2010

Korupsi itu Kotor dan Beracun [SKDAG655]

Korupsi adalah mengambil dengan cara tidak halal, seperti mengambil air limbah, banyak tetapi kotor dan beracun. Rejeki halal bagai mata air yang jernih, sejuk, dan menyegarkan.

Air limbah dari pabrik tidak boleh dibuang sembarangan, apalagi ke sungai yang digunakan masyarakat untuk MCK (mandi, cuci, dan kakus), karena selain kotor juga mengandung racun yang membahayakan, dapat membuat kulit gatal-gatal. Nah tindakan korupsi itu seperti mengambil air limbah, memang kita mendapatkan banyak, tetapi semua uang hasil korupsi itu kotor dan beracun. Kotor karena didapat dengan cara yang tidak benar dan merugikan pihak lain, sedangkan dikatakan beracun, karena tindakan korupsi ini menimbulkan ‘ketagihan’ dan membuat pelakunya menjadi malas, karena memiliki cara mudah untuk mencari uang. Memang korupsi bukan hanya mengambil uang, tetapi juga termasuk korupsi waktu atau memanfaatkan fasilitas perusahaan demi kepentingan sendiri.

Jelas hal ini menunjukkan bahwa korupsi merupakan tindakan berbahaya yang merugikan diri kita sendiri, selain bagi pihak lain yang dikorupsi. Mengapa kita tidak mencari air jernih saja yang bersih, sehat, segar, dan menyehatkan? Memang untuk mendapatkan air jernih kita perlu berusaha lebih keras, naik ke atas gunung atau mengolahnya lebih dahulu. Air jernih ini merupakan rejeki halal yang berbeda dengar air limbah, yang dianalogikan sebagai hasil korupsi.

Memang banyak manusia yang hanya ingin proses yang instant dan mudah, tanpa mempedulikan akibatnya. Tetapi bila kita mau berhasil, maka kita perlu mengalami suatu proses, sebagai sarana untuk belajar dan membentuk diri kita. Untuk itu marilah kita cari ‘air jernih’ yang menyegarkan dan menyehatkan bagi jiwa dan roh kita. Amin…