Kamis, 07 Oktober 2010

Konsistensi Matahari [SKDAG193]

Matahari tidak akan berhenti bersinar walau mendung menghalangi ...
Matahari tidak pernah kecewa, karena itu kodratnya ...
Sudahkah kita seperti matahari ?

Matahari memang selalu bekerja konsisten dan tanpa henti; ia menyinari alam semesta tanpa kenal lelah, tanpa mempedulikan apa pun yang menghalanginya. Ia memberikan sinar kepada semua orang, tidak peduli apakah ia seorang pendoa atau pendosa. Baginya semua sama saja dan sudah menjadi kodratnya untuk bersinar terus; ia tidak pernah memperhatikan hasil dan tanggapan dari para penerimanya.

Nah sekarang marilah kita lihat sifat kita sebagai manusia yang memiliki akal budi dan perasaan. Ternyata kita seringkali tidak konsisten dengan tugas yang seharusnya kita jalankan. Kita sering terpengaruh perasaan akibat tanggapan dari pihak yang kita layani, misalnya atasan atau anggota keluarga. Bila atasan tidak menerima ide atau masukan yang kita lontarkan, maka seringkali kita menjadi kecewa dan tidak mau memberikan masukan lagi. Demikian juga bila maksud baik kita ternyata ditanggapi secara negatif oleh pasangan hidup atau pacar kita, maka kita pun seringkali menjadi putus asa dan kecewa.

Marilah kita meneladani matahari agar kita dapat terus melakukan yang terbaik bagi diri sendiri, lingkungan, alam semesta, dan tentu saja bagi Tuhan. Selama yang kita lakukan itu benar, maka janganlah pedulikan tanggapan dari orang lain; kita terus konsentrasi pada tugas kita dan lakukan terus menerus dengan semakin baik dan semakin sempurna. Sanggup? Jangan kuatir, kita pasti sanggup …

Rabu, 06 Oktober 2010

Syarat Maju! [SKDAG634]

Berani karena benar,
Mengasihi walau ada yang tidak benar.
Mengampuni bila ada yang salah,
Berubah walau ada yang tidak salah, demi kemajuan (D. Agus Goenawan).

Syarat untuk maju hanya satu, yaitu berani dalam melakukan berbagai hal. Prinsip yang harus dipegang tentu saja adalah “berani karena benar”. Bila yang kita lakukan salah, maka sebaiknya kita tidak usah melanjutkan karena hal itu bertentangan dengan prinsip kita sendiri, masyarakat, dan tentu saja dengan Tuhan.

Untuk maju, kita perlu ‘berani mengasihi’ kepada semua orang , termasuk kepada musuh yang sudah berbuat salah atau menyakiti kita. Bila ada yang tidak benar, maka sudah menjadi tugas kita untuk memperbaikinya dengan cara yang penuh kasih, bukan menyalahkan. Kemudian untuk berani mengasihi musuh, tentu saja kita pun harus ‘berani mengampuni’ semua kesalahan yang telah dilakukannya dan ‘berani melupakan’-nya serta tidak mengungkit-ungkit lagi peristiwa pada masa lalu.

Semua keberanian tersebut dapat kita lakukan bila kita ‘berani berubah’, karena tanpa perubahan kita tetap akan berjalan di tempat. Berubah berarti meninggalkan ‘comfort zone’, dan beralih ke daerah baru yang penuh tantangan, sehingga kita perlu belajar dan menyesuaikan diri lagi demi meraih kemajuan. Memang tidak mudah, tetapi memberikan hasil yang luar biasa.

Selasa, 05 Oktober 2010

Tentang Kasih [SKDAG192]

Kita dapat memberi tanpa kasih, tetapi kita tidak dapat mengasihi tanpa memberi.
Berikanlah yang terbaik dalam hidup karena Allah telah lebih dulu mengasihi kita.

Kasih adalah sumber dari segala kedamaian, kebahagiaan, dan sukacita, tetapi kita juga perlu mengingat bahwa kasih bukan hanya kata sifat, tetapi merupakan kata kerja. Artinya kita harus menerapkan kasih dalam setiap tindakan kita.

Banyak orang yang memberi sumbangan hanya untuk mencari popularitas; ia memberi tanpa kasih, mungkin hanya dengan perasaan kasihan. Tetapi sebaliknya bila kita mengasihi orang lain, maka kita pun tidak cukup hanya sampai disini. Kasih kita kepada orang lain perlu dilanjutkan dengan tindakan memberi; artinya untuk mengasihi secara nyata kita perlu memberikan bantuan, pertolongan dengan tenaga, pikiran, dan harta kita, atau minimal dengan memberikan senyuman.

Saat ini, saya yakin Anda semua telah menerima berkat dari Tuhan, baik berupa kesehatan, harta benda, keluarga, dan lain-lain. Semua itu diberikan oleh Tuhan kepada kita karena Dia mengasihi kita, tetapi kita pun harus ingat bahwa semua itu hanyalah titipan-Nya yang tidak dapat kita bawa saat kita meninggal nanti. Karena itu sudah menjadi tugas kita untuk membalas cinta kasih Tuhan tersebut dengan jalan mengasihi sesama; bila kita telah diberikan berbagai hal oleh Tuhan, maka sekaranglah saatnya bagi kita pun untuk berbagi dengan sesama. Banyak hal yang dapat kita bagikan, misalnya senyum, tenaga, pikiran, saran, harta, atau apa pun. Waktu berbagi pun janganlah memilah-milah bahwa saya kan sudah menyumbang tenaga, sehingga tidak perlu lagi menyumbang harta, tetapi berikanlah semua yang dapat kita berikan.

Marilah kita lakukan yang terbaik dalam hidup ini, baik bagi diri sendiri, sesama, dan tentu saja bagi Tuhan!

Senin, 04 Oktober 2010

Jadilah Manusia Super! [SKDAG633]

Memberi itu biasa, tetapi memberi saat kekurangan itu luar biasa.
Bersyukur itu biasa, tetapi bersyukur saat susah sangat luar biasa.
Jadilah orang yang luar biasa!

Banyak orang yang menginginkan dirinya menjadi manusia super, Anda juga pasti salah satu di antaranya kan? Waktu kita kecil mungkin kita membayangkan diri kita menjadi Superman yang dapat terbang ke angkasa, bertenaga luar biasa, dan menjadi penghancur kejahatan. Itulah bayangan kita sebagai manusia super …

Memang mustahil bagi kita untuk menjadi Superman, tetapi sangat mungkin sekali bagi kita untuk menjadi manusia super, manusia yang luar biasa. Tentu saja super bukan dalam arti bertenaga luar biasa, tetapi bersikap dan berkepribadian yang luar biasa. Memang tidak mudah tetapi mungkin kita lakukan, asal kita mau berubah menjadi manusia yang penuh kasih dan syukur.

Sebagian besar dari kita baru memberi saat miliknya sudah banyak, tetapi untuk menjadi manusia luar biasa, kita perlu memiliki kemampuan untuk memberi saat kita sendiri kekurangan. Kelihatannya memang mustahil, tetapi bila kita lihat cukup banyak orang-orang yang melakukan hal ini. Di beberapa acara di televisi kita sering melihat bahwa banyak orang yang secara fisik berkekurangan tetapi mereka rela memberikan bantuan kepada orang lain dengan tenaga, pikiran, bahkan juga dengan harta atau milik mereka yang terbatas. Orang seperti itulah manusia yang luar biasa …l

Banyak orang bersyukur saat sedang bahagia dan sukacita, tetapi sanggupkah kita bersyukur saat menderita sakit, perekonomian terpuruk, disakiti teman, dan lain-lain? Untuk menjadi manusia luar biasa, maka kita perlu memiliki kemampuan untuk bersyukur dalam segala hal. Mari kita menjadi manusia luar biasa …

Minggu, 03 Oktober 2010

Berubah agar Hasil Lebih Baik! [SKDAG191]

Jangan berharap kerja semakin ringan, tetapi berharaplah hasil yang semakin baik terus menerus. Jangan berharap hasil lebih baik, kalau cara kerja kita tidak berubah.

Dalam suatu proses, kita perlu memperhatikan tiga hal, yaitu input (masukan), proses dan output (hasil). Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, tentu saja proses harus lebih baik atau masukan, baik berupa bahan baku, tenaga kerja, atau waktu, yang perlu terus ditingkatkan.

Bila usaha kita dalam melakukan proses menjadi lebih ringan, memang menyenangkan bagi kita, tetapi tentu saja hal ini berpengaruh pada hasil yang diperoleh. Karena itu jangan bekerja dengan lebih santai, tetapi kita perlu berubah untuk mencari cara kerja baru yang lebih efisien tetapi tetap efektif. Jadi langkah pertama adalah kita perlu berubah lebih dahulu dalam melakukan proses. Memang cara baru membuat kita tidak nyaman dan perlu belajar lagi, tetapi bila hasilnya lebih baik, mengapa kita tidak mau melakukannya?

Tujuan proses adalah mendapatkan hasil yang lebih baik, dan terus ditingkatkan dari waktu ke waktu. Untuk itu kita perlu terus belajar, meningkatkan diri agar selalu mendapatkan cara kerja yang lebih baik lagi ...

Sabtu, 02 Oktober 2010

Belajar dari Kesalahan [SKDAG190]

Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, asalkan ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya (Alexander Pope)

Sebagai manusia yang memiliki keterbatasan dan kelemahan, maka semua orang tentu pernah melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak. Pada umumnya setelah melakukan kesalahan, kita tentu saja menyesalinya, dan menjadi malu, sehingga mungkin tidak berani bertemu dengan orang-orang yang terkait dengan kejadian tersebut.

Kita tahu bahwa berbuat salah merupakan suatu pengalaman yang mahal, karena telah menimbulkan berbagai kerugian, baik berupa waktu, uang, dan lain-lain. Untuk itu kita perlu belajar dari berbagai kesalahan yang telah kita lakukan, sehingga kita tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Ingat juga bahwa manusia itu bukan keledai yang dapat jatuh dua kali di tempat yang sama. Kesalahan perlu mengubah kita menjadi manusia yang lebih baik, artinya lebih dewasa dan lebih bijaksana.

Marilah kita menjadi manusia fleksibel yang tidak kaku, sehingga kita dapat terus belajar untuk memperbaiki diri. Prinsip yang harus kita pegang adalah ”Hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok hari harus lebih baik dari sekarang”.

Jumat, 01 Oktober 2010

Enam Hal yang Perlu Kita Perhatikan [SKDAG632]

Yang terdekat dengan kita adalah kematian, yang terjauh adalah masa lalu.
Di dunia yang terbesar adalah nafsu, yang terberat adalah memegang amanah, yang teringan adalah meninggalkan ibadah, dan yang paling tajam adalah lidah manusia.

Banyak hal yang terjadi di dunia berada di luar kemampuan manusia, misalnya sebagai manusia kita tidak dapat menghindari kematian dan tidak dapat mengulangi masa lalu. Jadi kematian merupakan suatu hal yang terdekat dengan kita, karena dapat terjadi setiap saat; bukan kita tetapi Tuhanlah yang menentukan. Semua hal yang terjadi pada masa lalu, baik yang negatif maupun positif, tidak dapat kita ulangi karena semua berada di luar jangkauan manusia. Jadi masa lalu merupakan hal yang paling jauh karena sama sekali tidak dapat kita capai.

Kemudian manusia juga memiliki kelemahan, karena masih mengandalkan kedagingan, yaitu nafsu jelek yang berada dalam diri kita. Banyak manusia tidak dapat mengendalikan nafsunya, karena itu nafsu merupakan hal yang paling besar. Sedangkan yang terberat adalah memegang amanah, karena seringkali kita melalaikan amanah yang telah diberikan kepada kita.

Karena kelemahan juga banyak hal yang dilanggar manusia dengan mudah, meskipun hal tersebut merusak hubungan kita dengan Allah ataupun dengan sesama. Kita seringkali meninggalkan ibadah yang seharusnya kita lakukan dengan mencari berbagai alasan, misalnya sibuk dengan pekerjaan, capai, sakit, dan lain-lain. Waktu meninggalkan ibadah yang menjadi kewajiban, seringkali kita melakukannya tanpa beban dan tanpa perasaan bersalah. Kemudian dengan lidah kita pun sering menyakiti orang lain dengan jalan mengejek atau memarahinya secara berlebihan. Kita harus menyadari bahwa lidah kita merupakan organ yang tertajam karena dapat menyakiti bahkan membunuh orang lain.

Marilah kita perhatikan ke-enam hal tersebut, dan mengendalikan empat di antaranya yaitu nafsu, amanah yang telah diberikan, ibadah yang diwajibkan, dan kata-kata yang kita ucapkan. Dua hal lain memang berada di luar kendali kita, yaitu kematian dan masa lalu, tetapi agar kita tidak menyesal maka kita perlu memperhatikan tindakan kita mulai saat sekarang. Amin.