Rabu, 07 Juli 2010

The Power of Hope [SKDAG591]

Harapan adalah hadiah yang kita berikan pada diri sendiri, yang akan tetap tinggal ketika semua yang lain telah sirna (Naomi Judd)

Bila hidup kita sudah tidak memiliki harapan, maka sia-sialah semuanya, atau dikenal dengan istilah ‘hopeless’. Misalnya bila seorang pasien kanker stadium empat divonnis dokter bahwa hidupnya paling lama tinggal satu bulan lagi dan ia mempercayai ucapan dokter tersebut, maka ia menjadi putus asa dan hopeless. Ia merasa tidak mungkin sembuh lagi, akibatnya tidak sampai satu bulan dia sudah meninggal. Tetapi bila ia merasa bahwa hidupnya masih satu bulan lagi, karena itu ia ingin memanfaatkannya agar berguna bagi orang lain. Ia tetap menjalani hidup dengan penuh semangat dan terus menolong serta membagikan kasih kepada orang-orang di sekitarnya, maka ternyata setelah satu bulan berlalu, ia tetap hidup dan malah menjadi semakin segar. Itulah yang dinamakan ‘the power of hope’.

Harapan itu berada dalam diri kita sendiri; ia merupakan hal terakhir yang tetap tinggal dalam diri kita, ketika berbagai hal lain seperti kesehatan, kekayaan, serta kebahagiaan telah hilang dari diri kita. Bila kita tetap dapat menjaganya agar tetap hidup dalam diri kita, maka hidup kita pun masih berarti. Tetapi bila kita sudah menghilangkan atau membuangnya, maka hidup kita pun menjadi hopeless¸tidak berarti lagi.

Selasa, 06 Juli 2010

Jangan Mudah Terbakar! [SKDAG152]

Korek api mempunyai kepala tetapi tidak ada otak sehingga mudah terbakar bila digesek.Manusia memiliki kepala dan otak, jadi tidak perlu terbakar bila ada gesekan. Kurangi emosi negatif dengan berpikir jernih.

Korek api yang bagus adalah korek api yang segera terbakar atau menyala saat mengalami gesekan. Memang batang korek api itu hanyalah benda yang tidak memiliki otak seperti manusia. Sedangkan manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang terbaik memiliki otak dan hati yang luar biasa.

Jadi bila kita mengalami gesekan, misalnya karena dimarahi, dicela, dikata-katai, atau dipukul orang lain, maka hendaknya kita jangan langsung terbakar sehingga menjadi panas hati dan emosional. Bila kita menjadi emosional, maka kita tidak dapat lagi berpikir dengan tenang karena hati kita telah terbakar; saat itu nalar kita sudah tidak terpakai lagi, yang ada dalam diri kita hanyalah nafsu untuk mengeluarkan rasa marah dan keinginan untuk membalas dendam.

Gunakan otak kita untuk mengurangi ketegangan, karena dengan berpikir jernih maka kita dapat mengurangi emosi negatif sehingga kita menjadi bebas masalah dan tidak melakukan perbuatan yang menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Gunakanlah empati dan cobalah rasakan bila kita berada pada posisi orang tersebut, rasakan perasaan dan pikiran orang itu. Sebelum bertindak marilah kita berpikir ”bagaimana nanti” bukan ”nanti bagaimana”. Dengan memiliki kemampuan untuk memikirkan akibat yang akan terjadi, maka kita menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan suatu tindakan.

Syukurilah Talentamu! [SKDAG590]

Janganlah cemburu terhadap milik orang lain, tetapi bersyukurlah dengan apa yang sudah kita terima. Kenali talenta dan potensi yang kita miliki, lalu kembangkan sebaik-baiknya sehingga kita jadi manusia unggul. Otomatis rejeki yang akan mengejar kita.

Manusia itu dipenuhi oleh ketidakpuasan dan selalu membanding-bandingkan dengan milik atau kondisi orang lain. Banyak yang kita keluhkan, misalnya “Mengapa tinggi saya hanya 160 cm, sedangkan dia 190 cm, sehingga dapat menjadi pemain basket yang hebat?” atau “Mengapa saya lahir dari keluarga miskin, bukan dari keluarga Sultan Brunei?”, dan masih banyak lainnya.

Hal inilah yang menimbulkan pendapat bahwa rumput di rumah tetangga selalu lebih hijau daripada rumput di pekarangan kita sendiri. Padahal tetangga kita pun melihat rumput kita lebih hijau daripada rumput dia. Jadi siapa yang benar? Nah tidak usah dipermasalahkan siapa yang benar, tetapi marilah kita sadari bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak ada manusia yang sempurna 100%, tetapi tidak ada juga manusia yang tidak dapat apa-apa. Orang-orang yang cacat pun memiliki keahlian yang luar biasa, misalnya He Ah Lee, pianis autis yang hanya memiliki 4 jari tetapi dia dapat memainkan piano secara luar biasa.

Marilah kita lihat diri sendiri, periksalah apa kelebihan yang kita miliki: keunggulan fisik, emosi, bakat atau talenta yang kita miliki, sifat dan perilaku yang positif, dan masih banyak lainnya. Asahlah hal-hal yang positif ini agar menjadi keunggulan kita, kemudian atasi kelemahan-kelemahan yang kita miliki agar tidak lagi menjadi penghambat. Serta tentus saja tidak lupa untuk selalu mengucap syukur atas semua hal yang telah kita peroleh dari Tuhan. Semua hal inilah yang membuat kita menjadi manusia unggul, dan pasti rejeki menghampiri diri kita.

Senin, 05 Juli 2010

Empati [SKDAG151]

Empati berarti menempatkan diri pada posisi orang lain. Waktu terjadi konflik, ia akan mencari jalan keluar terbaik untuk ke dua belah pihak, tidak memaksakan pendapat atau kehendak sendiri.

Orang yang memiliki empati bukan saja seorang pendengar yang baik, tetapi juga dapat menempatkan diri pada posisi orang lain. Ia dapat memahami pikiran dan perasaan orang lain, sehingga mampu berkomunikasi atau melakukan tindakan yang tepat. Dengan memiliki rasa empati, maka kita pun dapat ber-tenggang rasa, dalam arti mau memahami tindakan seseorang. Misalnya seorang atasan yang baik dapat memahami alasan anak buahnya datang terlambat ke kantor karena pada pagi hari itu anaknya yang masih kecil menderita sakit. Sang atasan ini jelas memiliki empati, karena ia dapat memahami kepanikan orang tua bila anaknya menderita sakit.

Kemampuan berempati sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antara ke dua belah pihak, karena dapat menyelesaikannya dengan prinsi ‘win – win’. Orang yang berempati tidak memaksakan pendapat atau kehendak sendiri, tetapi ia mau memahami pendapat atau kehendak dari pihak lain, sehingga proses negosiasi memberikan hasil yang efektif.

Bila kedua belah pihak dalam negosiasi saling mempertahankan pendapat sendiri, maka tidak ada keputusan yang akan diperoleh, dan jelas hal ini merugikan bagi kedua belah pihak. Untuk itu marilah kita belajar untuk mengembangkan kemampuan ber-empati dalam diri kita, agar kita menjadi manusia yang lebih bermakna. Amin.

Sabtu, 03 Juli 2010

Nilai Manusia [SKDAG589]

Ingat ‘siapa’ yang kita miliki itu lebih berharga daripada ‘apa’ yang kita punyai. Jadi perbanyaklah teman, kurangi musuh.

Manusia sebagai suatu ciptaan Tuhan yang terbaik, jelas lebih berharga dibandingkan dengan benda apa pun di dunia ini. Manusia memiliki otak luar biasa yang mampu untuk mengingat, menyelesaikan masalah, serta menciptakan sesuatu yang baru secara kreatif. Selain itu manusia juga memiliki hati atau budi yang memungkinkan manusia untuk mengasihi, membedakan yang baik dengan yang buruk, serta menentukan yang benar di antara yang salah.

Otak dan hati ini merupakan dua kelebihan manusia yang tiada taranya, tidak ada mahluk lain di dunia ini yang memiliki keduanya seperti manusia. Otak, apalagi hati, tidak juga dapat dibandingkan dengan benda apapun. Jadi jelas manusia jauh lebih berharga dibandingkan dengan apa pun yang ada di dunia. Karena itu kasihilah manusia, yang sangat bernilai itu, dan milikilah mereka dengan cara menjadikan mereka sebagai teman kita.

Kita juga perlu menyadari bahwa manusia itu bersifat unik, tidak ada dua manusia yang sama di dunia ini, sekalipun ia kembar identik. Setiap individu memiliki keunggulan masing-masing. Karena itu kita perlu mencari teman sebanyak-banyaknya, sehingga kita dapat mengenali dan mempelajari berbagai keunggulan dari teman-teman kita. Dengan memiliki banyak teman, maka kita memiliki suatu jaringan yang sangat berguna bagi peningkatan kualitas diri kita. Di sisi lain, kita pun hendaknya tidak memiliki satu musuh pun, karena hal ini sangat merugikan dan juga membahayakan bagi perkembangan dan pertumbuhan diri kita.

Menjadi Dermawan Tidak Perlu Kaya! [SKDAG588]

Orang yang disebut kaya bukanlah yang berhasil mengumpulkan harta terbanyak, tetapi dia yang paling ‘sedikit’ memerlukan sehingga masih sanggup memberi kepada sesama.

Pengertian kaya yang umum adalah memiliki banyak harta. Tetapi bagaimana bila ia pun memiliki pengeluaran yang besar sehingga melebihi pemasukannya? Jelas lama-lama hartanya menjadi habis, karena terus berkurang. Jadi dalam pengertian yang lebih dinamis, kaya berarti bila kita memiliki selisih positif antara pemasukan dengan pengeluaran.

Selisih tersebut dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu meningkatkan pemasukan sehingga selalu di atas pengeluaran rutin kita atau menekan pengeluaran agar tetap ada selisih positif. Dengan cara yang pertama berarti kita harus mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk memenuhi pengeluaran yang mungkin juga terus meningkat. Jadi kekayaan digunakan untuk memenuhi nafsu dunia kita. Sedangkan cara kedua lebih fokus pada bagaimana cara kita menekan pengeluaran, agar selalu ada sisa positif yang dapat digunakan untuk berbagai hal yang bermanfaat.

Jadi melakukan pemberian atau derma itu sebenarnya tidak tergantung pada banyak harta yang kita miliki tetapi tergantung pada besar penghematan yang dapat kita lakukan. Dengan demikian berarti setiap orang, berapa pun penghasilannya, dapat memberikan bantuan pada orang lain yang memerlukan, asal dia mau mengurangi pengeluarannya. Dan tentu saja ada hal lain yang harus diperhatikan untuk menjadi dermawan, yaitu memberi dengan hati. Apakah Anda mau menjadi seorang dermawan?

Kamis, 01 Juli 2010

Berjiwa Besar [SKDAG150]

Berjiwa besar berarti tidak membiarkan diri dikuasai rasa benci dan permusuhan, mampu memaafkan dan tetap tegar dalam kesulitan. Mari besarkan jiwa dan rendahkan hati!

Kalau bertubuh besar, kita dapat melihat bentuknya secara nyata, tetapi bagaimana dengan berjiwa besar? Jiwa itu mencakup pikiran, perasaan, dan kehendak yang ada dalam diri kita. Semua hal inilah yang mengendalikan seluruh tubuh dan tindak tanduk kita. Dengan mampu mengendalikan jiwa maka kita pun akan menjadi manusia yang luar biasa dan disenangi orang lain.

Untuk memiliki jiwa yang besar, maka kita harus membuang pikiran negatif, perasaan negatif, dan kehendak negatif yang membuat kecil jiwa kita. Hilangkan rasa benci, iri, dengki, kuatir, serta permusuhan, dan isilah dengan rasa memaafkan, ucapan syukur, selalu bersukacita. Ketika menghadapi masa-masa sukar kita pun tetap tegar, tidak membiarkan diri kita hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Dengan memiliki jiwa besar, maka otomatis kita pun menjadi rendah hati, tidak sombong lagi. Dan jangan lupa juga untuk mengecilkan tubuh agar lebih sehat dan energik. Marilah kita miliki jiwa yang besar!